Orang Lamalera mengenang cerita itu dalam fragmen Lia Asa Usu yang berbunyi:
“Feffa belaka Bapa Raja Hayani Wuruk, pasa-pasa pekka lefuk lau Luwuk, fengngi baata Gajah Mada lali Jawa, hida-hida hiangka tana lau Beru, geri tena, bua bua laja, kai lullu laja teti Sera Gafi lefa Halmahera, kai kabongka teti Gora, gafek lau fatta papa Lamabata, sapek teti Tobi landekke, siga teti Fato Bela Bakku loddo dai kabe hone hollo.”
(Demi kehendak Bapak Raja Hayani Wuruk, terpaksa kutinggalkan desaku di Luwuk sana. Atas perintahnya Patih Gajah Mada dari Jawa, kulepaskan humaku di Tana Beru. Kutumpangi perahu lalu berlayar, lalu menurunkan layar di Pulau Seram. Pergi mengarungi laut Halmahera, akhirnya melabuhkan kapal di Pulau Gorom. Kulintasi pantai selatan Pulau Lembata, sambil menyinggahi Tobi Landekke nun jauh di timur. Berlabuh sebentar di Fato Bela Bakku, turun ke darat untuk membangun gubuk).
No comments:
Post a Comment