ððð£ðð€ ðð¥ð¢ðð§ð¬ð¢ ððð¢ð¥ðð§ðð«ð - ðð«ð¢ð°ð¢ð£ðð²ð ðð¢ ðððð ð€ð ðððð - ððð ð ☝ð®ð©
{ Makna Penggunaan Aksara Kawi / Nusantara Tipe Jawa Kuna Masa Åailendra dan Tafsir Sejarahnya }.
ðð§ððšððšð©ð ðððð€ð§ 776 M, sesuai dengan namanya diketemukan di daerah LIGOR, sebuah wilayah perbatasan antara Wilayah Thailand ð¹ð bagian Selatan yg disebut NAKHON SI THAMMARAT atau dikenal juga dengan sebutan TANAH GENTING KRA di wilayah Semenanjung Malaya ð²ðŸ bagian Utara.
Beberapa sejarawan juga menyebutnya dg nama ðððŒððŒððð ðŸððŒðððŒ (Chaiya Inscription).
Prasasti tsb hingga saat ini masih tetap tersimpan dan terawat dg baik dan aman di dalam sebuah kuil bernama WAT SEMAMUEAUNG di wilayah negara THAILAND ð¹ð☝
Prasasti Ligor 776 M berbahan batu yg di kenal dg istilah UTPALA PRASASTI.
ðð§ððšððšð©ð ðððð€ð§ 776 ð, memiliki dua sisi permukaan, dimana dikedua sisi permukaan tersebut terdapat guratan Aksara Kuna, masing-masing dikeluarkan oleh dua Tokoh Raja yang berbeda.
Untuk memudahkan pembahasan, maka dibuatlah suatu klasifikasi kode, yaitu ðððð ðŒ yang terdiri dari 29 (duapuluh sembilan) baris dan ðððð ðœ yang terdiri dari 4 (empat) baris☝ð®ð©
Guratan tulisan pada prasasti menggunakan ðŒðððŒððŒ ððððŒðððŒððŒ ððððŒ ðððð ðððŒ/AWAL dan ðœðŒððŒððŒ ððŒððððððððŒ sebagai bahasa pengantar terjemahan arti peristiwa sejarah masa lalu yg terdapat di dalamnya ☝ð®ð©
Istilah AKSARA KUNA NUSANTARA ada juga yg menggunakan istilah KAWI maupun JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL mengikuti istilah yg dibuat oleh J. G. de Casparis dalam mengklasifikasi sesuai dg tipe periodisasi paleografi nya, yaitu :
ðŒðððŒððŒ ð ðŒððŒ ððððŒ ðððð ðððŒ/ðŒððŒð, yaitu jenis aksara yg dipergunakan antara tahun 750 - 925 M. ☝
ðŒðððŒððŒ ð ðŒððŒ ððððŒ ððð¿ðŒ
yg dipergunakan antara tahun 925 - 1250 M. ☝
ðŒðððŒððŒ ð ðŒððŒ ððððŒ ðððð ððŒð ðŒððŒððð yg dipergunakan antara tahun 1250 - 1500 M. ☝
( J. G. de Casparis, Indonesian Palaeography : " A History of Writing in Indonesia from The Beginnings to C. A. D. 1500."
Leiden/Koln: Brill, 1975 ).
Dalam hal ini penulis tidak menggunakan istilah ðŒðððŒððŒ ððŒðð, mengingat Aksara KAWI umumnya digunakan dalam penulisan Karya Sastra (Kakawin) oleh para Pujangga (Kawi) Nusantara di masa kemudian.
Istilah KAWI untuk menyebutkan Aksara dan Bahasa Jawa Kuna diprakarsai oleh J. L. A. Brandes, H. Keren, dan Cohen Stuart. ☝
Menurut pendapat sejarawan Hendrik Kern, dikatakan bahwa Huruf/AKSARA JAWA KUNA bukanlah merupakan perkembangan langsung dari AKSARA PALLAWA yg berasal dari wilayah INDIA SELATAN. ☝
Pendapat H. Keren tsb di atas didukung oleh penemuan prasasti dg Aksara Pallawa Muda (termuda) yaitu ðððŒððŒððð ðŸðŒððððŒð/GUNUNG WUKIR 732 M dengan membandingkannya pada penggunaan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL di ðððŒððŒððð ðððððððððŒð/ððŒððððŒ 750 M.
Kedua prasasti sama-sama menggunakan BAHASA SANSEKERTA dan diketemukan di wilayah yg sama, yaitu JAWA TENGAH☝
Apabila di kaji secara proses ðð«ð€ð¡ðªðšð ð¥ðð¡ðð€ðð§ððð tentunya dibutuhkan waktu transisi yg seharusnya cukup lama, di mana "ð©ðð¢ðð¡ðð£ð" kedua prasasti cukup dekat hanya berselisih waktu = 18 tahun saja. ð€
Dengan demikian ðððŒððŒððð ððŒððððŒ/ðððððððððŒð ( Jumat, 24 Juli 750 M) yg dikeluarkan oleh seorang Tokoh bernama BHANU (Raja ❓ð€) yg diketemukan di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kabupaten Salatiga , Propinsi Jawa Tengah, merupakan prasasti pertama/tertua yg diketemukan dg menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL (750 - 925 M) ☝ð®ð©
Prasasti kedua adalah ðððŒððŒððð ð¿ððððð ð, 760 M yg menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL dg menggunakan BAHASA SANSEKERTA diketemukan di daerah Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kodya Malang, Propinsi Jawa Timur.
Prasasti tsb dikeluarkan oleh Raja Dewa Simha dari Kerajaan Kanjuruhan di wilayah Jawa Timur. ☝
Prasasti ke tiga adalah ðððŒððŒððð ððððð, 776 M
yang ditulis dengan menggunakan AKSARA NUSANTARA (KAWI) TIPE SRIWIJAYA untuk bagian Sisi A dan JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL untuk sisi B, dimana masing-masing sisi menggunakan bahasa yg sama, yaitu SANSEKERTA.
Di Thailand ð¹ð prasasti ini dikenal dengan nama PRASASTI WAT SEMA MUANG diketemukan di kota NAKON SI THAMMARAT atau yg lebih dikenal dg sebutan nama LIGOR di provinsi WIANG SA (Vieng Sa).
Prasasti ke empat adalah ðððŒððŒððð ððð ððŒððŒððŒðð, 13 April 787 M, yg ditulis menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL dan kemungkinan munculnya awal penggunaan BAHASA JAWA KUNA di dalam penggunaan bahasa pengantar penterjemahan sebuah aksara dalam prasasti (❓) ð€ð²ðš
Di bagian akhir prasasti disertakan nama seorang penulis prasasti sebagai sebuah jabatan penting, yaitu CITRA LEKHA bernama SANG WAYUR SAPACARLA.
ðð«ðð¬ðð¬ðð¢ ðð¢ð ðšð« ðð6 ð ð¹ð
ðððŒðððððððð dan ðððð ðððŒððŒððððŒ { ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð dan ðŒð¡ðð ðœððððšð pada ðððð ðŒ dan ðððð ðœ }.
Di dalam penyajian secara ALIH AKSARA dan ALIH BAHASA mengikuti versi GEORGE COEDES (1886 - 1969) dan LOUIS CHARLES DAMAIS (1911 - 1966) ☝ð®ð©
ðððð ðŒ (Baris ke 1-29) :
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð baris 1 - 13 :ð
(1) || "... visÄriÅyÄ kÄ«rttyÄ naya vinaya Åaurayya 'sruta sama kÅama (2) dhairyya tyÄga dyuti matidayÄdyakÅaya bhuvÄparam yasyÄ (3) krÄntÄ
bhuvanakutubhujÄm kÄ«rttivisarÄ mayÅ«khÄs tÄrÄÅÄm Åaradi (4) tuhinÄÅÅor iva rucÄ ||guÅÄnÄm ÄdhÄras tuhinagiri (5) kūţÄdhikarucÄ guÅÄdhyÄnÄm pumsÄm api jayati yas tuÅga (6) yasa sÄm maÅÄ«nÄm bhÅ«rinÄm duritabhidudan vÄniwa mahÄ (7) n manijyotir lekhÄvalayiÅirasÄÅ cÄpi phaÅiÅam (8) dhanavikalatÄbah nijvÄlÄ valik Åapi tÄsayÄ yama (9) bhipatitÄ ye te svÄmyam param samupÄgatÄh hradami (10) va gajÄ nityÄ ko - ~ pannaÅubhÄmbhÄsam savitari ta (11) pasty agre sevyum saroja rajo ruÅam ||guÅabhÅtam upa (12) gamya yam guÅÄdhyÄ~~~~rÄ manumÄ samam samantat (13) madhusamayam ivÄm rakesarÄdyÄÅ Åriyam adhikÄn dadhate ma (14) hÄ«ruhendrÄh..." ||
ðŒð¡ðð ðœððððšð baris 1-14 =ð
|| "...Kejayaan yg telah menjadi kekal abadi akibat sikap berhati-hati, rendah hati, pengetahuan, keheningan, jiwa, kesabaran, keberanian, kemurahan hati, keagungan, kecerdasan, rasa iba hati, dan sifat-sifat mulia lainnya.
(Kekayaan itu) Sambil menyebar, memudarkan sama sekali, pancaran kejayaan raja-raja sebagaimana terang cahaya bulan di musim gugur (memudarkan).
Cahaya bintang, lagi pula (Raja) yang merupakan wadah segala kebajikan itu, di dunia yang ini menjadi (dukungan) orang-orang yang penuh kebajikan, secerlang puncak-puncak Himalaya, dan yang sangat masyur.
Sebagaimana pula samudra besar pembasmi keburukan yang (menjadi wadah) sejuta permata, merupakan (wadah) Kaum Naga yang tudung kepalanya dikelilingi kalangan cahaya permata.
Setelah mereka yang hatinya tadinya dimakan jilatan api ke-papa-an, datang menemuinya, mereka menyerahkan diri pada kekuasaannya yang luar biasa.
Sebagaimana pula gajah-gajah, apabila matahari sedang terik, mempunyai kebiasaan mencari keteduhan dalam kolam dengan air heningnya
yang telah surut, dan yang disepuh serbuk sari bunga seroja.
Orang-orang baik budi, yang dari segala sudut mendekati raja yang penuh kebijakan dan mirip Manu.
Karena... itu, menerima darinya kekayaan (ÅrÄ« = cahaya) yang besar sekali, sebagaimana (menjelang) musim semi, raja-raja pohon;
mulai dari pohon mangga, dan Kesara {menerima keindahan (ÅrÄ« = cahaya) yang luar biasa}..." ||
ðŒð¡ðð ðð ðšðð§ð baris 15 - 16 :ð
|| "... jayati ayam ÅrivijayendrarÄja (15) samantarÄjÄrccitig mÄsanaÅrih prasastadharmma sthiraton mukhena (16) vinirmmito viÅvasjeva yatnÄt... "
ðŒð¡ðð ðœððððšð baris 15-16 =ð
|| "... Jayalah Raja Sriwijaya, yang Sri (cahaya) nya dihangatkan tempat duduknya oleh sinar-sinar yang dipancarkan raja-raja sekitarnya, dan diciptakan dengan tekun oleh Brahma, seakan-akan Dewa ini hanyalah memikirkan langgeng nya Dharmma yang masyur itu... " ||
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð baris 17-19:ð
|| "... çrÄ«vijayeÅvarabhÅ«pati- (17) r emaguÅo ghanakÅitita lasarvvasaman [tanrpot tama ekah (18) sthÄpita aiÅÅ£ikagehavaratrayam etat kajarakaramÄrani sÅ«dana [bajrinivÄsam... " ||
ðŒð¡ðð ðœððððšð baris 17-19 =ð
|| "... Sang Bhupati Sriwijaya, Satu-satunya penguasa di antara penguasa di seluruh muka bumi, telah mendirikan ketiga bangunan bata yang indah ini bagi Kajakara ( = Padmapani), bagi Pembasmi Mara ( = yaitu Sang Buddha-Sakyamuni), dan bagi Wajrin ( = Wajrapatni)... " ||
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð Baris 20 - 21:ð
|| "... sa~tam etat tri samaya caitya niketam (20) n daÅadigavasthitasavvaji sarvvajagatmalabhÅ« [nottamadattam (21) dharakuli avaram tribhavavibhutiviÅeÅadam
[amarapadam... " ||
ðŒððð ðœððððšð Baris 20 -21 =ð
|| "... Kediaman Dewata itu yang terdiri dari Tiga Caitya berkelompok, (yang dapat disamakan) dengan sebentuk intan yang indah di tengah-tengah gunung kotoran jagat raya, dan yang memberi kecemerlangan istimewa kepada ketiga dunia, telah diserahkan kepada yang terbaik di antara Para Jina yang mendiami kesepuluh penjuru... " ||
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð Baris 22 - 25:ð
(22) || "...punar api jayantanÄma rÄjÄsthavironÅpena saniyuktah stÅ« (23) patrayam asi kurvvity atas satad idan tatkÄ kÅtawÄn... " || "... svarite (24) smims tacchisyo dhimuktir abhÅ«cca tÄ matas sthavirah istikacai (25) tyadvitayam caityÄntika kÅtavan... " ||
ðŒð¡ðð ðœððððšð Baris 22-25 =ð
|| "... Lalu, ketika penjaga kuil kerajaan yang bernama JAYANTA menerima dari raja perintah yang mulia ini: "Buatlah tiga stupa ❗".
Dibuatnyalah stupa-stupa.
Setelah JAYANTA itu meninggal, muridnya yaitu ;
STHAWIRA ADHIMUKA selanjutnya membuat dua CAITYA dari batu bata di dekat ketiga CAITYA sebelumnya (yang didirikan) oleh Raja itu... " ||
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð Baris 26-28:ð
|| "... vÅddhyÄ(26)pte sÄkarÄje mumna vara sakair mmÅ«dhavai kÄdasÄhe sukle ke(27)lÄ«ralagne bhrgusutasahite sahite cÄryyamaÅ jrotirÄryyedewe(28) ndrabhena ca... " ||
ðŒð¡ðð ðœððððšð Baris 26-28 =ð
|| "... Sesudah berlalulah (tahun) Sakaraja (yang dilambangkan) dengan muni ( =7), nawa ( = 9) , rasa ( = 6) = 697 Syaka = 775 Masehi, Maghamasa,11 paruh terang, bulan Madhawa, ketika Matahari terbit diiringi Bintang Kejora (Venus), dalam Makara (Cancer)... ||
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð Baris 29 : ð
|| "... ÃrivijayaÅrpatinaryak Åiti sottamena trai(29)lokya i karya cintÄmaÅi vapuÅa i [ha sthÄ] parÄs[t]upa~~..." ||
ðŒð¡ðð ðœððððšð Baris 29 =ð
|| "... Raja Sriwijaya yang bagaikan Raja Para Dewa yang mengungguli Raja-Raja lainnya, yang rupanya seperti CINTAMANI, yang memperhatikan ke tiga dunia
( TRILOKYA), telah mendirikan STUPA... " ||
{ G. Coedes, 1918: 26 - 30 }
ðððð ðŒððŒð ððð (Deskripsi) .ðð®ð©
ðððð ðŒ (Baris 1-29) = ð
Baris ke 1-14 berisi tentang puji-pujian terhadap sosok seorang raja (Sriwijayað€).
Baris ke 15-16, untuk pertama kali sosok Raja Sriwijaya tanpa identitas nama dan gelar disebutkan dalam sebuah pujian sebagai : "... Jayati ayam ðððððð ðŒðððð¿ððŒððŒð ðŒ... "☝
(Jayalah Raja Sriwijaya)
Baris ke 17-19, untuk kedua kali sosok raja Sriwijaya disebutkan sebagai ðððððð ðŒðððððŒððŒðœððððŒðð yang memerintahkan pengikutnya mendirikan tiga bangunan suci (TRISAMAYA CAITYA) bagi Tiga Bodhisatwa; Mara (Iblis Sang Perusak), Padmapani (kajakara) dan Wajrapadni (bajrini).
Baris ke 20-21, tentang pujian keistimewaan akan kemegahan nan magis terhadap ketiga bangunan; ðððððŒððŒððŒ ðŸðŒððððŒ yang terbuat dari bata merah tsb.
Baris ke 22-25, menceriterakan tentang seorang pengikut setia Sang Raja Sriwijaya yg menerima perintah mendirikan ketiga bangunan STUPA ; TRI SAMAYA CAITYA yang bernama JAYANTA.
Setelah ketiga bangunan suci tersebut rampung berdiri, JAYANTA meninggal dunia.
Selanjutnya muridnya bernama STHAWIRA ADHIMUKA meneruskan dengan menambahkan dua
buah CAITYA yang terbuat dari batu bata di dekat ketiga CAITYA yg ada sebelumnya. ☝
Baris ke 26-27 , menguraikan tentang ððŒðððð ðððŒððŒððð. ☝ð²ðš
Mengingat Prasasti Ligor tersebut dikeluarkan pada Bulan Mmudhawai = Maghamasa = bulan ke 11 ( Januari - Pebruari ) maka mengikuti rumusan untuk pembacaan Tahun Syaka ke Tahun Masehi ditambahkan + 79 tahun, sehingga pembacaan yang benar untuk Tarikh Prasasti Ligor adalah tahun 776 M☝
Sedangkan untuk perhitungan di luar bulan tersebut, yaitu bulan : Caitra, Waisyaka, Jyesta, Asada, Srawana, Bhadrawada, Asuji, Kartika, Margasira, Pasya, dan Phalguna, ketentuannya tetap ditambahkan +78 tahun☝ð²ðš
(Goenawan A. Sambodo, Dari Prasasti ke Prasasti. Komunitas Taksaka, 2020:28).
Hasil perhitungan matematis menurut rekan ðšððððð ðŸðð ððððð adalah:
WARA : wa ( Was),
wa (Wage),
ra (Raditya=Minggu).
WUKU: Kuruwlut (ke-17).
WULAN: Magha (Januari-Pe-
bruari).
Ekuivalen : 7 JANUARI 776 M
Baris ke 28-29, untuk yang ketiga kalinya disebutkan sosok raja Sriwijaya dengan ðððððð ðŒððŒðððððŒððð yang dipuji sebagai penguasa Tiga Dunia (Trailokya) bagaikan Sang CINTAMANI selaku
pendiri stupa .
ðððð ðœ (Baris 1 - 4) :ð
ðŒð¡ðð ðŒð ðšðð§ð (Baris 1-4) :
(1)|| "...swasti.
yo' sau rÄjÄdhirÄjas sakalaripugaÅadhvÄntasÅ«ryyo(2)pamaikas svaujobhih kÄntalakÅmyÄ saradamalaÅaÅi manmathÄbho vapu(3)Åman viÅnÅwÄkhyo' seÅarvvÄrimadavimathana's ca dvitÄ«yas svaÅaktyÄ sau(4) yam ÅailendravaÅÅaprabh[u] nigadatah srÄ« mahÄrÄjanÄmÄ|| taskya ca sakalara...."
ðŒð¡ðð ðœððððšð Sisi B (baris 1-4) :
Versi ð. ðŸððð¿ðð =ð
(1918)
|| Selamat !
Rajadhiraja ini; satu-satunya yang karena cemerlangnya dapat disamakan dengan Matahari 'yang menghalau' malam, yaitu rombongan semua musuh-musuhnya itu.
Yang dengan keindahannya penuh pesona mirip bulan musim gugur tanpa cela.
Yang rupanya seperti Titisan Kama.
Yang rupanya seperti Wisnu. Pemimpin Wangsa Sailendra bernama Sri Maharaja.... "||☝
Versi ððŒðððð ðŒððŸðððð:ð
(1918)
|| Selamat !
RAJADHIRAJA yang karena semangatnya/kegemilangan nya bersifat tunggal bagaikan Sang Matahari penghalau kegelapan.
Yang diwujudkan oleh gerombolan semua musuhnya.
Yang karena ke rupawan annya, yang memikat/karena keindahan bulan Kanta, adalah bulan di musim gugur aqyang tiada cacatnya.
Dan yang karena daya pikatnya, memiliki rupa seperti MANMATHA (RAJA) itu bernama WISNU.
Yang berkat kepercayaannya bagaikan DEWA WISNU,
yang Penghancur Kesombongan semua Musuhnya ( = SESARWARIMADAWIMATANA),
dan yang dinamakan SRI MAHARAJA, untuk mewujudkan bahwa asal-usulnya dari KELUARGA RAJA SAILENDRA, tentangnya... ||☝
Versi ð. ðŸððŒðœððŒ (1965) :ð
|| Selamat !
(Tafsiran tarikh pemindahan dari bagian SISI A baris ke 26-27, DIHILANGKAN❗ Guna penyamaan persepsi terjemahan ☝ð®ð©)
Ia (yang) adalah Maharaja dari semua raja (yang) (=RAJADHIRAJA) melalui kekuasaannya (seperti) DEWA SURYA (Matahari) itu sendiri menghalau kegelapan (dalam bentuk) semua musuhnya.
Ia (yang) berwajah sungguh sempurna (bagaikan) bulan purnama di musim gugur yang tanpa cela (dan) bagaikan DEWA KAMA itu sendiri.
Ia (yang) bagaikan DEWA WISNU (yang) secara keseluruhan (memusnahkan) kebanggaan semua musuh-musuhnya.
Dan (yang) dengan (memperlihatkan) semua kehebatannya seketika itu juga.
Ia (yang) masyur itu dikenal dengan sebutan SRI MAHARAJA, karena ia berasal dari (keturunan) SAILENDRA WANGSA,
dan tentang dirinya... dari semua raja (?)... ||
ððð£ðððªðð£ ðððšð ðœ (Baris 1-4) =.ð
Dari penyebutan di bagian pembuka (manggala) prasasti pada umumnya yang digunakan di Asia Tenggara, maka sebutan pada SISI B, yaitu ðððŒððð yang berarti; SELAMAT ❗ (Beruntung, Berhasil, Makmur, Bernasib baik) ber indikasi sebagai bagian a wal pembacaan prasasti dimulai. ☝
Sedangkan untuk bagian awal pembukaan (manggala) yg digunakan pada SISI A, yaitu dimulai dengan kata VISÄRIÅ YÄ , yang berarti "menyebar, maju/tampil ke depan", berasal dari akar kata VISARIN yang tidak umum dan berbeda dalam tradisi penulisan Prasasti Sansekerta di Asia Tenggara (Monier-williams, 1899:1001, 1283).
Kalimat pendek berikutnya menyebutkan ððŒð ðŒð¿ððððŒð ðŒð, yang dapat diartikan sebagai RAJA dari SEGALA RAJA (King of King's) ð
Pada baris ke-3 disebutkan kata ðððððððŒððð yang berarti memiliki penampilan bagaikan WISNU ( Coedes, 1918: 32; 1959:47; Coedes & Damais, 1992: 110).
Selanjutnya diikuti oleh julukan (Epiteton = Epithets) sebagai ððŒððððŒððððŒð¿ðŒððððŒðððŒððŒ, yang berarti: " ððð£ðððð£ððªð§ð ðð£ ððððð£ððððð£ ððð¢ðªð ððªðšðªðð£ð®ð" ( Coedes, 1918: 29; Coedes & Damais, 1992: 108).
Pada baris ke 4 disebutkan secara jelas dan terperinci seorang raja/penguasa dari Dinasti /Wangsa/Keluarga Sailendra;
ððŒððððð¿ððŒððŒððððŒðððŒðœðð yang bernama ððð ððŒððŒððŒð ðŒ (ððð ððŒððŒððŒð ðŒððŒððŒð). ☝
ðŒððŒððððŒ (KAJIAN ððððððððððŒð- ðððððŒððŒððð). ☝ð®ð©
Berdasarkan penyajian dan tinjauan data di atas bahwa Prasasti Ligor 776 M memiliki arti keterkaitan satu sama lain antara Sisi A dengan SISI B, yang didasarkan kepada beberapa bukti antara lain :
ððððððððŒðŒð ðŒðððŒððŒ ððŒðð / ððððŒðððŒððŒ - ð ðŒððŒ ððððŒ ð¿ððððŒ ððŒððŒðððð ðœðððœðð¿ðŒ. ð
Adanya penggunaan Tipe Aksara yang berbeda, yaitu ðŒðððŒððŒ ððŒðð ðððð ðððððð ðŒððŒ (776 ð) pada ðððð ðŒ ððð£ ðŒðððŒððŒ ððŒðð ðððð ÅðŒððððð¿ððŒ pada ðððð ðœ, tentu sebagai sebuah indikasi adanya pengaruh ð ðŒððŒ ððððððŒð ððŒððððŒ ððŒððððð¿ððŒ (Tokoh Raja dan Kerajaan) terhadap ððð£ððªððšð ðð§ðð¬ðððð®ð di Abad ke VIII M.
Perbedaan secara signifikan tampak pada gaya dan corak penulisan Aksara Kawi-Nusantara pada bagian Sisi-A dengan Sisi B yg disebabkan oleh faktor subjektif masing-masing ððð£ð ðŸðð©ð§ð ððð ðð (Petugas Kerajaan Penulis Prasasti).
Namun demikian adanya penggunaan AKSARA KAWI-NUSANTARA dengan tipe yg berbeda tersebut sangat besar kemungkinannya adanya pengaruh dan keterkaitan yang erat antara kedua isi maklumat pada kedua sisi prasasti ; sehubungan dengan dua orang tokoh penguasa, yaitu RAJA ðððððð ðŒððŒ dan RAJA ððŒððððð¿ððŒ, berkaitan dengan pendirian monumen ðððððŒððŒððŒ ðŸðŒððððŒ yang dibangun secara berkala sebelum tahun 776 M . ðð®ð©
Tentang bagaimana, kapan, untuk tujuan apa penguasa /Raja Jawa menggunakan pengaruhnya melalui Penggunaan Aksara Jawa Kuna melalui penulisan sebuah prasasti sebagai maklumat/titah/perintah penetapan pada Sisi B hingga ke Wilayah Ligor (Perbatasan Wilayah Semenanjung Thailand ð¹ð dan Malaya ð²ðŸ) ; tentu memiliki satu alasan, yaitu untuk sebuah KEPENTINGAN POLITIK (HEGEMONI) KEKUASAAN. ☝ð®ð©
Namun bagaimana proses tersebut berlangsung ❓ð€
akan tetap menjadi sebuah misteri dan dilematika ð€
ððððððððŒðŒð ððŒððŒ ððððœðððŒ (ððŒððððŒððŒ) ðððŒððŒðð. ð
Menurut penilaian beberapa orang Sejarawan
tentang arti dan makna penulisan PRASASTI LIGOR 776 M, yaitu diantaranya:
ððŒð ððð¿ðŒð :
Menduga bahwa kedua sisi (SISI A dan SISI B) merupakan dua halaman prasasti yang berbeda ( Majumdar, 1933: 122).
ðŸððð¿ðð :
pada awal mulanya mengira bahwa teks dalam Prasasti Ligor 776 M merupakan satu kesatuan prasasti. Pada akhirnya dia mengikuti tesis Majumdar, bahwa terdapat perbedaaan di kedua sisi prasasti (SISI A dengan SISI B).
Pada SISI-A ; menyebutkan seorang penguasa Raja (nrpa, nrpati, bhupati, indra raja) dan mungkin Raja dari Segala Raja ( isvarabhupati) SRIWIJAYA☝.
Sedangkan pada SISI-B menyebutkan Penguasa SAILENDRA dengan MAHARAJA (great king) dan RAJADHIRAJA (king of kings) (Coedes, 1918: 2-3; 1959: 42-48; Coedes & Damais 1992: 103-111).
ðððððð-ððððððŒðð: memperhitungkan dengan adanya kata pembuka (manggala) pada kedua sisi prasasti, yang dimulai dari SISI-B dg adanya kata ðððŒððð yang berarti "selamat/keberuntungan" (fortune, luck, succes, prosperity). Namun pada bagian SISI-A kata pembuka dimulai dg kata ððððŒðððððŒ, yang berarti "menyebar" (spreading, diffusing, coming forth) yang keluar dari akar kata ððððŒððð yang tidak umum digunakan di dalam tradisi penulisan Prasasti Sansekerta di kawasan Asia Tenggara (Monier-Williams, 1899: 1001, 1283).
ðœðððŸð:
Mengemukakan bahwa Prasasti Ligor merupakan teks tunggal, yang menyarankan agar teks dg aksara yang sama tersebut harus dibaca dimulai dari SISI-B berlanjut ke SISI-A☝ (Bosch, 1941: 26-38).
Dari beberapa thesa di atas sebagai landasan teori untuk digunakan sebagai langkah awal pembacaan Prasasti Ligor yang memiliki dua sisi halaman yang berbeda (SISI-A dan SISI-B) dengan pembahasan dimulai dari SISI B ☝ðð®ð©
ðð¿ððððððððŒðð ððððð ððŒð ðŒ
ðððœðŒððŒð ððððððŒððŒ. ð
ðððð-ðœ (Bagian Awal) =
• ððŒð ðŒð¿ððððŒð ðŒ (Baris = 1:
Raja dari segala Raja /King
of Kings). ☝
• ððððððŒðððð ððððŒððððŒðð
ððŒð¿ðŒððððŒðððŒððŒ (Baris :
3 = Bagaikan WISNU,
Menghancurkan Kebangga-
an Semua Musuhnya ✊
• ððŒððððð¿ððŒ ððŒððððŒ ðððŒ-
ðœðð (Baris : 4 = Raja dari
Wangsa Sailendra). ☝
• ððð ððŒððŒððŒð ðŒððŒððŒð.
(Baris : 4 = Bernama Sri
Maharaja). ☝
Siapakah seorang tokoh yang dimaksud, bernama ððð ððŒððŒððŒð ðŒ (❓) ð€ yang bergelar sebagai ððŒð ðŒð¿ððððŒð ðŒ atau RAJA DARI SEGALA RAJA (KING OF KINGS) dan dijuluki (Epiteton) ððððððŒðððð ððððŒððððŒððððŒð¿ðŒððððŒðððŒððŒ ( = ðœððððð ðð£ ðððšð£ðª ððð£ðððð£ððªð§ð ðð£ ððððð£ððððð£ ððð¢ðªð ððªðšðªðð£ð®ð ✊), seorang raja yang berasal dari WANGSA SAILENDRA (ððŒððððð¿ððŒ ððŒððððŒ ðððŒðœðð) ð€ð®ð©
Secara analisa kontekstual terdapat beberapa sumber primer yang menyebutkan julukan/EPITON (epithets) seorang raja dari WANGSA SAILENDRA (Sailendra wangsatilaka) , diantaranya adalah :
1) ðððŒððŒððð ððððððŒð 782
M:
ððŒðððððŒððŒððððŒððððŒððŒð-
ð¿ðŒððŒ = " ððð£ðððð£ððªð§
ðððð¡ðð¬ðð£ ððªðšðªð ððð§ðððð "
mengacu kpd tokoh SRI
SANGGRAMADHANAN-
JAYA. ðð®ð©
2) ðððŒððŒððð ððððð 776 M:
ððŒððððŒððððŒð¿ðŒððððŒ-
ðððŒððŒ = " ððð£ðððð£ððªð§-
ð ðð£ ððððð£ððððð£ ððð¢ðªð
ððªðšðªðð£ð®ð ", yang menga-
cu pada SRI MAHARAJA
RAJADHIRAJA☝ð®ð©
3) ðððŒððŒððð ððŒððŒðð¿ðŒ 843-
850 M:
SRIVIRAVAIRIMATHANA
= " ððð£ð®ðð ðšð/ððð§ðªðšðð
ððð§ð¢ððšð®ðªð§ ððð§ð ððªðšðªð
ððð¢ððð§ðð£ð ", yg mengacu
kepada seorang RAJA
JAWA (YAVABHUMIPA-
LAH) kakek BALAPUTRA
☝ð®ð©
(Coedes, 1918: 29; Coedes & Damalis, 1992: 108; Nilakanta Sastri, 1949: 126-127).
https://www.facebook.com/share/p/1A6uQ41T2i/
Dari uraian analisa kontekstual di atas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud ððð ððŒððŒððŒð ðŒ ððŒððŒ yang dijuluki sebagai ððŒð ðŒð¿ððððŒð ðŒ (Raja dari Segala Raja) dg epiton "ðœððððð ðð£ ðððšð£ðª ððð£ðððð£ððªð§ð ðð£ ððð¢ðªð ððªðšðªðð£ð®ð" (ððððððŒðððð ððððŒððððŒððððŒð¿ðŒððððŒðððŒððŒð) dan berasal dari SAILENDRA WANGSA (ððŒððððð¿ððŒ ððŒððððŒ ðððŒðœðð) adalah IDENTIK dengan tokoh Raja ððð ððŒðððððŒððŒð¿ððŒððŒðð ðŒððŒ
(Prasasti Kelurak 782 M)ðð®ð© atau yang disebut sebagai ððŒð ðŒ ð ðŒððŒ (ð®ðð«ððððªð¢ð) yang memiliki putera bernama ððŒððŒððŒðððŒððððŒ (Raja Sriwijaya ?) yang menikah dengan ððŒððŒ anak ð¿ððŒðððŒðððð yang berasal dari ððŒððððŒ ððððŒ (rajnyah somakulanvayasya maharaja sri dharmasetoh suta) merupakan ððŒððð dari ðœðŒððŒðððððŒ Raja ðððŒðððŒð¿ððððŒ yang juga berasal dari ððŒððððŒ ððŒððððð¿ððŒ ð ðŒððŒ ("... ðððð¡ðð£ðð§ðð«ðð£ðšðð©ðð¡ðð ð€ ððð«ððððªð¢ðð¥ðð¡ðð... " ) = baris ke-52 Prasasti Nalanda 843-850 M).
https://www.facebook.com/share/14QkGbzqnH/
(Nilakanta Sastri, 1924: 322-324: 1949: 126-127).ðð®ð©
ðððð ðŒ (Bagian Akhir) =
Intisari tentang makna ditulisnya bagian SISI A Prasasti Ligor (7 Januari 776 M) adalah adanya seorang Raja Penguasa Kerajaan Sriwijaya yang disebut bbrp kali dengan julukan (Epiton) :
• ðððððð ðŒðððð¿ððŒððŒð ðŒ
(Baris ke-11).
• ðððððð ðŒðððððŒððŒðœðð-
ððŒðð (Baris ke-16).
• ðððððð ðŒððŒðððððŒðð
(Baris ke-28).
yang memberikan perintah pada waktu sebelumnya kepada pengikutnya bernama ð ðŒððŒðððŒ untuk mendirikan sebuah kuil/ðððð©ð®ð bernama ððð ððŒððŒððŒ.
ððððððððððŒð- ðððððŒððŒððð ANTARA ððð¿ððŒ ððððððŒððŒ; RAJA ðððððð ðŒððŒ DENGAN DENGAN SRI MAHARAJA ððŒððððð¿ððŒðð®ð©
Secara kajian ðððððŒððŒððð, adanya gelar penguasa yang disandang oleh kedua Raja di atas tampak sangat berbeda jika diperbandingakan dan dikaitkan satu sama lain akan memiliki arti dan penafsiran yang berbeda pula. ☝
Penguasa ðððððð ðŒððŒ hanya menggunakan Epiton
(SRIWIJAYA)-ððð¿ððŒ ððŒð ðŒ, (SRIWIJAYA)- ððððŒððŒðœððððŒðð, (SRIWIJAYA)-ðððððŒðð.
Adanya Epiton ðœððððŒðð, mengindikasikan status sebagai raja bawahan (ð«ððšðð¡) dari sebuah pengaruh kekuasaan yang lebih dominan di atasnya☝ð®ð©
Perbedaan sebaliknya lebih dominan pada Epiton yang digunakan oleh Penguasa SAILENDRA, yaitu
RAJA DHIRAJA yang berarti penguasa atas RAJA dari SEMUA/SEGALA/SELURUH RAJA (ððð£ð ð€ð ððð£ð'ðš), yang merupakan gelar kebesaran dari SRI MAHARAJA ðð²ðš
Dengan demikian dapat disimpulkan secara ððððððððððŒð bahwa hubungan dan kaitan ððŒðððŒ antara ðððð ðœ dan/dengan ðððð ðŒ ; PRASASTI LIGOR (7 Januari 776 M) adalah ððððŒð/PERINTAH dari/oleh RAJA PENGUASA TERTINGGI (RAJADHIRAJA-SRI MAHARAJA) SAILENDRA kepada RAJA SEKUTU BAWAHANNYA (VASAL) SRIWIJAYA untuk menjalankan tugas amanah pembangunan ððð-ððŒððŒððŒ ðŸðŒððððŒ☝
Kejadian/Fenomena di atas tentu terjadi sebagai akibat adanya SEBUAH KEPENTINGAN, terutama POLITIK HEGEMONI KEKUASAAN akibat perseteruan yang telah berlangsung sejak seabad yang lalu (Abad ke VII) ☝ð²ðš
Di dalam pengkajian isi PRASATI LIGOR (7 Januari 776 M) terdapat sebuah fenomena sejarah di Abad ke VIII M tentang ð¿ðððððŒðð ððŒð ðŒ ð ðŒððŒ (ð®ðð«ððððªð¢ðð¥ðð¡ðð = kakek Balaputradewa) ððð ððŒðððððŒððŒð¿ððŒððŒðð ðŒððŒ yang berasal dari ððŒððððŒ ððŒððððð¿ððŒ (ðððð¡ðð£ðð§ð- ð«ðð¢ðšðð©ðð¡ðð ð€) yang mendominasi SRIWIJAYA hingga ke wilayah kekuasannya di LIGOR ; Semenanjung THAILANDð¹ð - MALAYAð²ðŸ
Dari sebuah Dominasi Kekuasaan tersebut kemudian dimunculkan sebuah Pakta /ðŒðððŒððð/Persekutuan bersama secara Politik di dalam menjaga dan menguasai jalur perdagangan di wilayah strategi Selat Malaka (jalur perdangan CINA ðšð³, INDIA ð®ð³, ASIA TENGAH, dan EROPA), bahkan kemungkinan besar terdapat indikasi kerja sama dalam invasi wilayah secara militer ke kawasan Asia Tenggara bagian Utara (Indo Cina) ☝ð®ð©
ð¿ð€ð¢ðð£ððšð Penguasa ððŒððððð¿ððŒ terhadap kekuasaan ðððððð ðŒððŒ dapat dibuktikan dengan beberapa indikasi antara lain ; disebutkan dalam Catatan Berita Cina ðšð³ Jaman Dinasti Tang (618-690 & 705-907 M) tentang pengiriman duta utusan terakhir dari ðððð-ðð-ðð-ðððð (SRIWIJAYA) pada tahun 742 M. ☝
Bahkan dominasi Sriwijaya semakin melemah setelah wilayah yang dikuasainya berdiri secara otonom dg masing-masing wilayah mengirimkan duta utusan ke China ðšð³ , yaitu antara lain ;
ðð-ðð (Kedah di Malaysiað²ðŸ) pada tahun 742 dan 759 M, ðð-ðððð antara tahun 768 - 818 M, ððð-ðð antara tahun 820 - 873 M, dan ðððŒð-ðœðð (Jambi di Sumatra ) mengirim duta utusan pada tahun 852 dan 871 M (Jordan & Colles, 2009: 67-69).☝
Indikasi lain adanya bentuk ðŒðððŒððð (Persekutuan) ð€ ditunjukan dg beberapa bukti invasi militer gabungan (Pakta) ✊antara pasukan ððð-ðð (JAWA) dan ððð-ððð (SRIWIJAYA ?) yang menyerang wilayah TONKIN di VIETNAM pada tahun 767 M (Coedes, 1968: 91).☝
Dua buah Prasasti peninggalan Kerajaan Campa dengan kode C-38 bertarikh 784 M dari ðð-ððŒððŒð wilayah Nha-Trang, Propinsi Khan-Hoa dan Prasasti lainnya berkode C-25 bertarikh antara 799-800 M dari ððŒðð-ððððð di wilayah Propinsi Ninh-Thuan, menceriterakan tentang invasi militer besar-besaran melalui pelayaran laut dari ð ðŒððŒ yang dilakukan beberapa kali antara tahun 774 dan 787- 788 M (stanza VI = "... ð£ðð«ðððð©ððð§ ðððð«ðð«ðð¡ððšðð£ððððð§ ...") ✊
(Bergaigne, 1893: 207-218, 242-260; Majumdar: 1927: 41-44, 46, 50-56).
ðŒðððŒððð atau sebuah persekutuan bersama jangka panjang antara ððððððŒððŒ ððŒððððð¿ððŒ dengan ððððððŒððŒ ðððððð ðŒððŒ ini berlangsung cukup lama, yang kemungkinan selanjutnya dijalin melalui hubungan kekerabatan perkawinan antar anggota kedua penguasa tsb, seperti yang dilakukan oleh kakek BALAPUTRADEWA, yaitu ððŒð ðŒ ð ðŒððŒ ððð ððŒððŒððŒð ðŒ ððŒðððððŒððŒð¿ððŒððŒðð ðŒððŒ yang menikahi TARA putri RAJA SRI DHARMASETU dari WANGSA SOMA (❓) = "...ð§ððð£ðð ðšð€ð¢ðð ðªð¡ðð£ð«ðð®ððšð®ð ð¢ðððð©ðð ðšð§ððððð§ð¢ð¢ððšðð©ð€ð ..."
(perlu sebuah kajian lebih lanjut secara teliti dan mendalam ☝ð®ð©).
ðœðŒððŒðððððŒ merupakan penerus PENGUASA ððŒððððð¿ððŒ ð ðŒððŒ di ðððŒðððŒ ð¿ððððŒ (Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda 843-850 M: "...ðšðªð«ðð§ð£ððð«ðð¥ð-ððððð¥ðð¢ðððð§ððð-ðšððð¡ðð£ðð§ðð«ðð£ðšðð©ðð¡ðð ð€-ð®ðð«ððððªð¢ðð¥ðð¡ð€ð. ...") ☝ð®ð©
Diperkirakan masa kekuasaannya tidak sekuat kakeknya, dimana Raja ð ðð®ðð¬ðð§ð¢ðð£ ðð di Kamboja mendirikan ððð§ððððð£ ððð¢ðð§ dan melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Jawa pada tahun 802 M. ✌
Sang kakek ; ðððð ð ðð¬ð ðð§ð ððððð§ððð ððð£ððð§ðð¢ððððð£ðð£ððð®ð diperkirakan pula telah wafat pada tahun 792 M (ðð§ððšððšð©ð ððð£ððªðšð§ððð§ðð 792 M) ð
Hubungan bilateral antara Sriwijaya dengan Cina ðšð³ terputus sejak penghentian duta/utusan terakhir dari ðððð-ð¡ð-ðð€-ðšððð (Sriwijaya) pada tahun 742 M di Jaman Dinasti Tang (705-907 M), sebagai akibat Dominasi SAILENDRA di Abad ke VIII-IX M.
Keadaan tersebut berlangsung cukup lama hampir sepanjang 100 tahun, yaitu dari tahun 742 - 904/
960 M. (❓) ð€
Keadaan tersebut bisa kita maklumi bersama, mengingat pada masa pemerintahan BALAPUTRADEWA di SUWARNADWIPA ( = SUMATERA yg merupakan bagian wilayah kekuasaan SRIWIJAYA) tidaklah menjalin hubungan diplomatik dengan CINA di jaman Dinasti Tang II (705 - 907 M), melainkan dengan Dinasti PALA dari BENGALI di Wilayah India Utara, dimasa pemerintahan Raja DEWAPALADEWA (Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda 843-850 M).
Pada tahun 960 M kembali tercatat di dalam Berita Cina ðšð³ Jaman Dinasti Song-II (960-1279 M) datangnya duta/utusan dari ððð£-ðð€-ðŠð (Sriwijaya) atas nama ððð-ðð-ððð-ððŒ-ððððŒ, yang dimaksud yaitu ððð ðð¿ðŒððŒð¿ððððŒ.
Hubungan ððŒððððð¿ððŒ-ðððððð ðŒððŒ ini terus berlanjut dg adanya indikasi hubungan diplomatik dengan Penguasa Kerajaan ðŸð€ð¡ð di Wilayah India Bagian Selatan. ☝ð®ð³
Beberapa Piagam masa pemerintahan ðððð-ðððð ð (985-1012 M) dari ððð£ððšð ðŸð€ð¡ð dari ðð€ð§ð€ð¢ðð£ððð¡ - ðð£ððð ððð¡ðð©ðð£ yang ditulis dalam Bahasa Tamil dan Bahasa Sansekerta, masih memberitakan tentang hubungan SRIWIJAYA dan SAILENDRA hingga awal Abad ke XII M. ☝
ðð§ððšððšð©ð ððð¢ð¥ðð£ð ððð¢ðððð ðððððð£ 1006 ð (Berbahasa Tamil dan Sansekerta), pada bagian berbahasa Sansekerta, mengkisahkan bahwa Raja ððŒððŒððŒ bernama ðŸðððŒððŒððððŒðððŒð mendirikan sebuah kuil/caitya Buddha di ððŒððŒððŒðððððŒð.
Sang Raja mengaku lahir dari lingkungan keluarga ððŒððððð¿ððŒ yang juga penguasa ðððððð ðŒððŒ dan memimpin pemerintahan di ððŒððŒððŒ = "... ðšððð¡ðð£ðð§ðð«ðð¢ðšð-ðšðð¢ðððªð©ðð£ð
ðšð§ðð«ððšðð®ððððð¥ðð©ðð£ð ð ðð©ðð-ððððð¥ðð©ð®ðð¢-ðð©ðð£ð«ðð©ð... "
(Aiyer, 1933a: 213-266; Nila kanta Sastri, 1949: 128-175; Karashima & Subbarayalu, 2009: 272-273) .
Nama ððð ðŸðð¿ðŒððŒððððŒðððŒð¿ðððŒ juga tercatat di dalam Berita Cina ðšð³ , yang mengirimkan duta-utusan ke Cina atas nama ðð-ðð-ðŸðð-ððŒ-ðð-ðð-ðð-ððŒ-ðððŒð-ðððŒ pada tahun 988 M.
Seorang Pendeta Buddha yang berasal dari daerah Benggala-India, bernama ðŒððððŒ yang mengembangkan ajaran ðœðªðððð ðððð§ðð®ðð£ð di ððððð©, di dalam catatan kerjanya (ð¿ðªð§ðð€ðððð¡ð€ð ð) menerangkan. bahwa penguasa ðð§ðð«ðððð®ðð£ðððð§ð di ððð¡ðð®ðððð§ð di ððªð«ðð§ð£ððð«ðð¥ð adalah ððð ðŸðð¿ðŒððŒððððŒðððŒð¿ðððŒ setelah abad ke X M. ☝
(Coedes, 1966).
Pada tahun 1003 M, ðð§ð ðŸðªððð¢ðð£ðð¬ðð§ð¢ðððð¬ð membangun sebuah kuil yang didedikasikan kepada Kaisar Cina ðšð³ yang diberi nama ðŸðððð-ðððð-ððŒð-ðððð, yang mengirim duta-utusannya mengatas namakan ððšððª-ð¡ð-ð©ððð€ðª-ð¡ð€-ð¬ð€ðª-ð£ð-ðð€-ð¢ð-ð©ððð€-ðð€ðªð.
(Selamet Muljana, 2006).
Beberapa orang Sejarawan menghubungkannya dg ðŸðð£ðð ðœðªð£ððšðª di ððªðð§ð ððð ðªðš. ☝
(Brill Archives).
Dimasa pemerintahan ðððððððððððŒ ðŸððððŒ ð , seorang anak laki-laki CULAMANIVARMAN bernama
ððŒððŒððð ðŒðððððððððŒððŒðððŒð melanjutkan menyelesaikan pembangunan kuil yang sebelumnya didirikan oleh ayahnya dan diberi nama ððŒððððð¿ððŒ-ðŸðððŒððŒððððŒðððŒððððŒððŒ (Prasasti Leiden 1006 M).
Pada tahun 1008 M di dalam catatan Berita Cina ðšð³
datang utusan dari negeri San-fo-ts'i mengatas namakan Se-li-ma-la-pi, yang merujuk kepada SRI MARAVIJAYOTTUNGGAVARMAN; putera SRI CUDAMANIVARMAN.
Identifikasi nama ðððððððŒððŒ dengan ðððððð ðŒððŒ adalah satu nama yang sama disebutkan di dalam dua prasasti dari NAGAPATTINAM bertarikh 1014/1015 dan 1015 M.
Sedangkan sebuah prasasti lain dari NAGAPATTINAM bertarikh 1019 M, menyebutkan tentang seorang duta/utusan dari Raja ððððŒððŒ, yang merupakan ejaan lain dari kata
ððŒððŒððŒ dan ððŒð¿ðŒððŒð.
(Karashima & Subbarayalu, 2009: 275-276, 278).
Nama negeri ððŒððŒððŒ merupakan penggunaan menurut versi dari Bahasa Tamil untuk ððŒð¿ðŒððŒð dalam versi Bahasa Sansekerta.
Pada masa pemerintahan Raja ððŒð ððð¿ððŒ ðŸððððŒ ð (1012-1042 M) hubungan persahabatan (diplomatik) dari Raja-Raja Wangsa Chola dengan Penguasa ððŒððððð¿ððŒ-ðððððð ðŒððŒ di ððŒððŒððŒ (ððŒð¿ðŒððŒð) di era sebelumnya yg terjalin dengan harmonis, rupa-rupanya terputus ð
Raja ððŒð ððð¿ððŒ ðŸððððŒ ð menerbitkan ðððŒððŒððð ððŒðð ððð 1030 ð yang isinya memperingati kemenangan di beberapa wilayah di India hingga ke daerah Sungai Gangga di India Utara, hingga ke wilayah Asia Tenggara dan sebagian Nusantara, tak terkecuali salah satunya ðððððð ðŒððŒ yang berpusat di ððŒð¿ðŒððŒð dengan rajanya berhasil dikalahkan dan ditangkap sebagai tawanan perang bernama ððŒðððððŒððŒððð AYððððððððŒððŒðððŒð (Baris ke -17, Prasasti Tanjore 1030 M; Coedes, 1918: 6).
Konon, putera Rajendra CHOLA I bernama WIRAJENDRA I, pernah mengaku menaklukkan negeri KADARAM pada tahun 1068 M, namun kemudian menyerahkannya kembali kepada rajanya (Coedes, 1918: 38).ð
ðððððððŒð (ð ððšðð¢ð¥ðªð¡ðð£). ☝ð®ð©
Dari uraian analisa di atas; tentang isi (Deskripsi) dan penafsiran sejarah (Kontekstual-Komparatif) terhadap PRASASTI LIGOR (7 Januari 776 M) dapatlah disimpulkan bahwa adanya penggunaan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA / AWAL (Periode: 750-925 Masehi) pada bagian Sisi B yang sebelumnya telah digunakan/berasal dari Golongan Ningrat (Para Penguasa/Raja dan Pejabat Tinggi Kerajaan) di Jawa pada sekitar Abad ke VIII M (750 - 760 M) mengindikasikan adanya pengaruh DOMINASI POLITIK / KEKUASAAN RAJA SAILENDRA terhadap PENGUASA SRIWIJAYA di Wilayah Semenanjung Malaya ð²ðŸ- Thailand ð¹ð
Kedua Penguasa SAILENDRA dan SRIWIJAYA membentuk sebuah ALIANSI (PERSEKUTUAN) pemerintahan bersama yang dikendalikan oleh RAJA JAWA bernama SRI SANGGRAMADHANANJAYA dari WANGSA SAILENDRA pada Abad ke VIII M (742 - 792/802 M).
Aliansi atau Persekutuan bersama tersebut tetap berlangsung hingga Abad ke IX M di masa kekuasaan BALAPUTRADEWA di SWARNADWIPA (843/850 - 904
M) sebagai penerus tahta kekuasaan kakeknya SRI SANGGRAMADHANANJAYA, yaitu seorang RAJA JAWA yang berasal dari Wangsa Sailendra (ÅrÄ« MahÄrÄjÄ - YavabhÅ«mipÄlah - ÅailendravaÅÅatilako ).
Pada tahun 960 M, Raja SRI UDAYADITYAWARMAN seorang Penguasa SRIWIJAYA (San-fo-qi) diperkirakan sebagai penerus Balaputradewa, kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Cina ðšð³
Pada tahun 988 M , tercatat di dalam Berita Cina ðšð³ nama seorang raja San-fo-qi (Sriwijaya) bernama SRI CUDAMANIWARMAN.
Pada tahun 1006 M menjalin hubungan diplomatik dengan penguasa Cholamandala (Koromandel) di India Selatan dengan dianugerahi sebuah desa untuk pembangunan sebuah Vihara Buddha.
Pada tahun 1008 M , Catatan Berita Cina ðšð³ menyatakan adanya kedatangan utusan dari negeri San-fo-qi (Sriwijaya) mengatasnamakan Raja SRI MARAWIJOTTUNGGAWARMAN,merupakan putera dari Sri CUDAMANIVARMAN.
Sri Marawijayottunggawarman melanjutkan pembangunan vihara meneruskan cita-cita ayahnya yang kemudian diberi nama SAILENDRA-CULAMANIVARMAVIHARA.
Dominasi SAILENDRA-SRIWIJAYA ini kemudian berakhir pada sekitar tahun 1030 M akibat serangan RAJENDRA COLA I, yang mengakhiri hubungan diplomatik dengan SRIWIJAYA dengan mengalahkan dan menawan rajanya bernama SRI SANGGRAMAWIJAYOTTUNGGAWARMAN yang berpusat pemerintahan di KADARAM (KITARA = KATAHA = KEDAH).
Pada tahun 1068 M, serangan atas SRIWIJAYA kembali dilakukan oleh putera Rajendra Cola I, yaitu WIRAJEN DRA I terhadap negeri KADARAM.
Demikianlah kisah jejak ALIANSI SAILENDRA - SRIWIJAYA yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad (750 - 1050 M ) lamanya sebagai akibat adanya dominasi politik yang dipelopori oleh Raja Jawa; SRI SANGGRAMADHANANJAYA dari Wangsa Sailendra yang dimulai sejak pertengahan Abad ke VIII M hingga berakhir di bawah penguasa SRI SANGGRAMAWIJAYOTTUNGGAWARMAN awal Abad ke XI M.☝ð®ð©
BALI, 17 April 2021
(Penulis: Toni Antoni Putra).
UNGKAPAN TERIMAKASIH ðð®ð©
Sebagai ungkapan rasa simpati kepada bbrp rekan sesama pemerhati Sejarah Nusantara, tak lupa saya sampaikan rasa Terima Kasih atas segala bantuan berupa sumbangan data dan pemikiran kepada sdr. :
* Goenawan A Sambodo.
* Heri Poerwanto.
* Riff Bend Hall.
* Anjrah Widayaka.
* Panji Topan Bahagia.
ðððð®ð©
PUSTAKA RUJUKAN:
* Bergaigne, A.: " Inscription
Sanskrites de Campa du
Cambodge". Paris, 1893.
* Bosch, F.D.K.: " De Inscriptie
van Ligor. " TBG 81, 1941.
* Casparis, J.G.de.: "Indonesian
Palaeography : A History
of Writing in Indonesia
from The Beginnings to
C.A.D. 1500." Leiden/Koln
Brill, 1975.
* Coedes, G.: " Le Royaume de
Ãrivijaya." Bulletin de l'
Ecole Française de '
Extreme Orient." BEFEO,
1918.
* Coedes, G.: " Linscription de
Stele de Ligor. Etat pre-
sent de son Interpreta-
tion. " Orient Extremes,
1959.
* Coedes, G. : " The Indianized
States of Southeast Asia
." Ed. by W.F. Vella, trans-
lated by S. Brown Cor-
ving. University Press of
Hawai, Honolulu, 1968.
* Coedes , G & Damais, L. C.:
" Sriwijaya: " History,
Relegion & Language of
an Early Malay Polity ."
Collected Papers by
P.Y. Manguin, Kuala Lum-
pur. Malaysia Branch of
The Royal Asiatic Society,
1992.
* Goenawan A. Sambodo. :
" Dari Prasasti ke Prasas-
ti." Komunitas Taksaka,
2020.
* Hirananda Shastri.: " The Na-
landa Copper-plate of Deva
-paladeva." Epigraphia XVII,
1924.
* Jordan R.E. & Colles B.E. :
" The MaharajaS of the
Isles; The Sailendras and
The Problem of Srivijaya."
University of Leiden,
Leiden, 2009.
* Majumdar, R.C. : "Ancient Indi-
an Colonies in The For
East." Vol-I. Champa, book
III : The Inscriptions of
Champa, Punjab, Lahore,
1927.
* Majumdar, R.C. : " Notes on
Sailendra Kings Mention-
ed in Leiden Pletes. "
E.L. XXII, p.204, 2004.
* Majumdar, R.C.: " Les Rois
Sailendra de Suvarnadvi-
pa." BEFEO 33, 1933.
* Monier - Williams M.: "De In-
skripsi van Ligor." TBG 81,
1899.
* Nilakanta Sastri, K.A. : " Histo-
ry of Sri Vijaya (Sir William
Meyer Lectures, 1946-
1947). University of Ma-
dras, 1949.

