Tuesday, September 29, 2026

Terjemahan Prasasti Leiden




**सोऽयमखिलकलाकलापपारावरपारदृश्वान्
शेषनृपचक्रचारुच्छामीकरकिरीटकोटिघटितानेकमाणिक्यमरीचिपुञ्जपूजीकृतपादपीठो राजराजो राजकेसरिवर्म्मा
स्वसाम्राज्यवर्ष एकविंशतितमे निखिलधरणीतिलकायमाने क्षत्रियशिखामणिवलनाडुनाम्नि महति जनपदनिवहे पत्तनक्कुर्रनाम्नि जनपदे
नानासुरसदनसत्रप्रपारामाभिरामे विविधसौधराजिराजमाने नागिपट्टने निजमतिविभवविजितसुरगुरुणा बुधजनकमलवनमरीचिमान्
आर्त्थिजनकल्पपादपेन शैलेन्द्रवंशसम्भूतेन श्रीविजयाधिपतिना कटाहाधिपत्यमातन्वता मकरध्वजेनाधिगतसकलराजविद्यस्य चूडामणिवर्म्मणः पुत्रेण
श्रीमारविजयोत्तुङ्गवर्म्मणा स्वपितुर्नाम्ना निर्मापितमधरीकृतकनकगिरिसमुन्नतिविभवमति रमणीयं चूडामणिवर्म्मविहारमधिवसते बुद्धाय
तस्मिन्नेव जनपदनिवहे पत्तनक्कुर्रनाम्नि जनपदे करिणीपरिक्रमणविश्पष्टसीमाचतुष्टयमनैमङ्गलाभिधानं ग्राममदात् ॥

इत्थं देवेन दत्तस्य स्वपित्रा चक्रवर्त्तिना ग्रामस्यास्य गते तस्मिन् देवभूयं महौजसि ।
तत्सिंहासनमारूढस्तत्पुत्रो मधुरान्तकः ॥
शासनं शाश्वतं धीमान् कारयित्वादिशन्नृपः ।
शेषोऽशेषं महीम्यावद्धत्ते शेषोरगेश्वरः ।
स्थेयात्तावद्विहारोऽयं विभावेन सहावनौ ॥

सोऽयं कटाहाधिपतिग्गुणानां निवासभूमिर्महिता प्रभावः ।
आगामिनः प्रार्थयते नरेन्द्रान्
धर्मं सदेमं मम रक्षतेति ॥**


So 'yam akhila-kalā-kalāpa-pārāvara-pāra-dṛśvān...  

(Dialah yang telah mencapai seberang samudra seluruh himpunan ilmu pengetahuan...)

Rājakēsarivarman Rājarājaḥ

 (Rājarāja, yang bergelar Rājakēsarivarman...)

sva-sāmrājya-varṣe ekaviṃśatitame

 (Pada tahun ke-21 pemerintahan kekaisarannya...)

nikhila-dharaṇī-tilakāyamāne  

(ketika seluruh bumi menjadi laksana perhiasan...)

Kṣatriya-śikhāmaṇi-valanāḍu-nāmni mahati janapada-nivahe  

(di wilayah besar bernama Kṣatriyaśikhāmaṇi-valanāḍu...)

Paṭṭana-k-kurram-nāmni janapade

 (di daerah bernama Paṭṭana-k-kurram...)

Nāgipaṭṭane  

(di Nāgipaṭṭana (Nāgapattinam)...)

nānā-sura-sadana-satra-prapārāmābhirāme

 (yang indah dengan berbagai kuil, tempat peristirahatan, tempat penyedia air dan taman...)

vividha-saudha-rāji-rājamāne

 (dan berkilauan dengan deretan berbagai bangunan megah...)

śailendra-vaṃśa-sambhūtena

 (yang lahir dari wangsa Śailendra...)

Śrī-Vijayādhipatinā

 (yang merupakan Adipati Śrī-Vijaya...)

Kaṭāhādhipatyam ātanvatā  

(yang menjalankan kekuasaan atas Kaṭāha...)

makara-dhvajena  

(yang memiliki panji berlambang makara...)

adhigata-sakala-rāja-vidyasya

 (yang telah menguasai seluruh pengetahuan tentang pemerintahan kerajaan...)

Cūḷāmaṇivarmaṇaḥ putreṇa

 (putra Cūḷāmaṇivarman...)

Śrī-Māravijayottuṅgavarmaṇā  

(yaitu Śrī Māravijayottuṅgavarman...)

sva-pitur nāmnā nirmāpitam

 (yang dibangun atas nama ayahnya...)

Cūḷāmaṇivarma-vihāram

 (Vihāra Cūḷāmaṇivarman...)

Buddhāya (untuk Buddha...)

Kanakagiri-samunnati-vibhavam

 (dengan kemegahan yang menjulang seperti Kanakagiri...)

Nāgipaṭṭane...

 (di Nāgapattana...)

Ānaimangalam-nāmānam grāmam adāt

 (ia memberikan sebuah desa bernama Ānaimangalam...)

grāmasya asya...

 (desa ini...)

sva-pitrā cakravarttinā  

(yang sebelumnya diberikan oleh ayahnya, sang Cakravartin...)

tasmin devabhūyam gate

 (setelah ia pergi menuju alam para dewa...)

tasya putro Madhurāntakaḥ

 (putranya, Madhurāntaka...)

śāsanaṃ śāśvatam...

 (menetapkan ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya...)

śeṣo 'śeṣa-mahīṃ yāvad dhatte

 (selama Śeṣa menopang seluruh bumi...)

tāvad vihāro 'yam...

 (selama itu pula hendaknya vihāra ini tetap berdiri...)

so 'yaṃ Kaṭāhādhipatiḥ...

 (Adipati Kaṭāha ini...)

āgāminān narendrān...

 (memohon kepada para raja yang akan datang...)

dharmaṃ sa imam mama rakṣateti

 (Lindungilah selamanya pemberian keagamaan saya ini.)


Sumber Refrensi:

1. K. V. Subrahmanya Aiyar — Epigraphia Indica, Vol. XXII

Ini adalah referensi epigrafis utama untuk teks Prasasti Leiden yang kita bahas. Prasasti tersebut diterbitkan sebagai Epigraphia Indica, Vol. XXII, No. 34. Bagian yang kita bahas adalah Larger Leiden Copper-plate Inscription of Rajaraja I.

Sumber ini sangat penting karena memberikan teks prasasti, pembacaan epigrafis, dan informasi mengenai hibah Rājarāja I.


2. Noboru Karashima & Y. Subbarayalu — Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia

Ini merupakan buku yang saya gunakan untuk membantu memahami konteks sejarah prasasti.

Judul lengkap:

Nagapattinam to Suvarnadwipa: Reflections on the Chola Naval Expeditions to Southeast Asia

Diterbitkan oleh ISEAS–Yusof Ishak Institute, 2009. Bab yang relevan adalah “Ancient and Medieval Tamil and Sanskrit Inscriptions Relating to Southeast Asia and China”, khususnya bagian:

No. 1: Larger Leiden Copper-plate Inscription of Rajaraja I

Buku ini menyatakan bahwa prasasti tersebut bertanggal tahun ke-21 Rājarāja I, sekitar 1006 M, dan bahwa bagian Sanskrit praśasti kemungkinan ditambahkan pada awal pemerintahan Rājendra I, sekitar 1019 M.

Halaman buku di Cambridge University Press


3. Epigraphia Indica, Vol. XVII — Prasasti Nalanda

Untuk pembahasan saya mengenai hubungan Śailendra–Jawa–Śrīvijaya, saya juga merujuk pada publikasi Epigraphia Indica mengenai Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda (Nalanda Copper-plate Inscription of Devapāladeva).

Prasasti ini sangat penting karena menyebut:

  • Bālaputradeva
  • Suvarṇadvīpa
  • wangsa Śailendra
  • hubungan genealogis keluarga Śailendra
  • pembangunan vihāra di Nālandā.

Epigraphia Indica Vol. XVII diterbitkan oleh Archaeological Survey of India pada 1923.


4. George Cœdès — Les rois Śailendra de Suvarṇadvīpa

Saya juga menggunakan kajian klasik George Cœdès mengenai raja-raja Śailendra.

Kajian ini membahas antara lain Prasasti Nalanda, Bālaputradeva, wangsa Śailendra, dan hubungan dengan Suvarṇadvīpa.

Kajian Cœdès penting sebagai historiografi lama, tetapi beberapa interpretasinya mengenai identifikasi geografis dan politik perlu dibandingkan dengan penelitian yang lebih baru.


5. South Indian Inscriptions

Untuk konteks Kaṭāha/Kadāram dan hubungan dengan ekspedisi Chola, saya juga menggunakan kumpulan South Indian Inscriptions. Misalnya, sumber yang dikutip dalam Nagapattinam to Suvarnadwipa mencantumkan Perumber Inscription of Vīrarājendra, yang menyebut penaklukan Kaṭāram oleh Vīrarājendra.


Jadi, untuk teks Sanskrit yang Anda minta

Kalau tujuan kita adalah mendapatkan teks Sanskrit yang benar secara filologis, urutan referensi yang paling aman menurut saya adalah:

① Epigraphia Indica XXII, No. 34
→ sumber primer utama untuk Leiden Copper-plate.

② Karashima & Subbarayalu, Nagapattinam to Suvarnadwipa
→ edisi/terjemahan dan pembahasan modern yang membantu membaca konteks Śrīvijaya–Śailendra–Chola.

③ Epigraphia Indica XVII
→ pembanding untuk Prasasti Nalanda/Bālaputradeva.

④ George Cœdès
→ pembanding historiografis mengenai Śailendra dan Suvarṇadvīpa.

⑤ South Indian Inscriptions
→ pembanding untuk prasasti-prasasti Chola mengenai Kaṭāha/Kadāram.



Sunday, September 27, 2026

𝐏𝐑𝐀𝐒𝐀𝐒𝐓𝐈 𝐋𝐈𝐆𝐎𝐑 𝟕𝟕𝟔 𝐌 🇹🇭

𝐉𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐢𝐚𝐧𝐬𝐢 𝐒𝐚𝐢𝐥𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 - 𝐒𝐫𝐢𝐰𝐢𝐣𝐚𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐀𝐛𝐚𝐝 𝐤𝐞 𝐕𝐈𝐈𝐈 - 𝐗𝐈𝐈 𝐌 ☝🇮🇩

{ Makna Penggunaan Aksara Kawi / Nusantara Tipe Jawa Kuna Masa Śailendra dan Tafsir Sejarahnya }. 

       𝙋𝙧𝙖𝙨𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙇𝙞𝙜𝙤𝙧 776 M, sesuai dengan namanya diketemukan di daerah LIGOR, sebuah wilayah perbatasan antara Wilayah Thailand 🇹🇭 bagian Selatan yg disebut NAKHON SI THAMMARAT atau dikenal juga dengan sebutan TANAH GENTING KRA di wilayah Semenanjung Malaya 🇲🇾 bagian Utara.
     Beberapa sejarawan juga menyebutnya dg nama 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝘾𝙃𝘼𝙄𝙔𝘼 (Chaiya Inscription). 
     Prasasti tsb hingga saat ini masih tetap tersimpan dan terawat dg baik dan aman di dalam sebuah kuil bernama WAT SEMAMUEAUNG di wilayah negara THAILAND 🇹🇭☝
     Prasasti Ligor 776 M berbahan batu yg di kenal dg istilah UTPALA PRASASTI.      
     𝙋𝙧𝙖𝙨𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙇𝙞𝙜𝙤𝙧 776 𝙈, memiliki dua sisi permukaan, dimana dikedua sisi permukaan tersebut terdapat guratan Aksara Kuna, masing-masing dikeluarkan oleh dua Tokoh Raja yang berbeda. 

        Untuk memudahkan pembahasan, maka  dibuatlah suatu klasifikasi kode, yaitu 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 yang terdiri dari 29 (duapuluh sembilan) baris dan 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘽 yang terdiri dari 4 (empat) baris☝🇮🇩

       Guratan tulisan pada prasasti menggunakan 𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙉𝙐𝙎𝘼𝙉𝙏𝘼𝙍𝘼 𝙆𝙐𝙉𝘼 𝙏𝙄𝙋𝙀 𝙏𝙐𝘼/AWAL dan 𝘽𝘼𝙃𝘼𝙎𝘼 𝙎𝘼𝙉𝙎𝙀𝙆𝙀𝙍𝙏𝘼 sebagai bahasa pengantar terjemahan arti peristiwa sejarah masa lalu yg terdapat di dalamnya ☝🇮🇩

       Istilah AKSARA KUNA NUSANTARA ada juga yg  menggunakan istilah KAWI maupun JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL mengikuti istilah yg dibuat oleh J. G. de Casparis dalam mengklasifikasi sesuai dg tipe periodisasi paleografi nya, yaitu :

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙆𝙐𝙉𝘼 𝙏𝙄𝙋𝙀 𝙏𝙐𝘼/𝘼𝙒𝘼𝙇, yaitu jenis aksara yg dipergunakan antara tahun 750 - 925 M. ☝

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙆𝙐𝙉𝘼 𝙈𝙐𝘿𝘼 
yg dipergunakan antara tahun 925 - 1250 M. ☝

𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙆𝙐𝙉𝘼 𝙏𝙄𝙋𝙀 𝙈𝘼𝙅𝘼𝙋𝘼𝙃𝙄𝙏 yg dipergunakan antara tahun 1250 - 1500 M. ☝

( J. G. de Casparis, Indonesian Palaeography : " A History of Writing in Indonesia from The Beginnings to C. A. D. 1500."
Leiden/Koln: Brill, 1975 ). 

       Dalam hal ini penulis tidak menggunakan istilah 𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙆𝘼𝙒𝙄, mengingat Aksara KAWI umumnya digunakan dalam penulisan Karya Sastra (Kakawin) oleh para Pujangga (Kawi) Nusantara  di masa kemudian. 
Istilah KAWI untuk menyebutkan Aksara dan Bahasa Jawa Kuna diprakarsai oleh J. L. A. Brandes, H. Keren, dan Cohen Stuart. ☝

       Menurut pendapat sejarawan Hendrik Kern, dikatakan bahwa Huruf/AKSARA JAWA KUNA bukanlah merupakan perkembangan langsung dari AKSARA PALLAWA yg berasal dari wilayah INDIA SELATAN. ☝

       Pendapat H. Keren tsb di atas didukung oleh penemuan prasasti dg Aksara Pallawa Muda (termuda) yaitu 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝘾𝘼𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇/GUNUNG WUKIR 732 M dengan membandingkannya pada penggunaan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL di 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙋𝙇𝙐𝙈𝙋𝙐𝙉𝙂𝘼𝙉/𝙃𝘼𝙈𝙋𝙍𝘼 750 M. 
     Kedua prasasti sama-sama menggunakan BAHASA SANSEKERTA dan diketemukan di wilayah yg sama, yaitu JAWA TENGAH☝

       Apabila di kaji secara proses 𝙚𝙫𝙤𝙡𝙪𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙡𝙚𝙤𝙜𝙧𝙖𝙛𝙞 tentunya dibutuhkan waktu transisi yg seharusnya cukup lama, di mana "𝙩𝙞𝙢𝙚𝙡𝙞𝙣𝙚" kedua prasasti cukup dekat hanya berselisih waktu = 18 tahun saja.  🤔

       Dengan demikian 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙃𝘼𝙈𝙋𝙍𝘼/𝙋𝙇𝙐𝙈𝙋𝙐𝙉𝙂𝘼𝙉 ( Jumat, 24 Juli 750 M) yg dikeluarkan oleh seorang Tokoh bernama BHANU (Raja ❓🤔) yg diketemukan di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kabupaten Salatiga , Propinsi Jawa Tengah, merupakan prasasti pertama/tertua yg diketemukan dg menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL (750 - 925 M) ☝🇮🇩

       Prasasti kedua adalah 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝘿𝙄𝙉𝙊𝙔𝙊 𝙄, 760 M yg menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL dg menggunakan BAHASA SANSEKERTA diketemukan di daerah Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kodya Malang,  Propinsi Jawa Timur. 
       Prasasti tsb dikeluarkan oleh Raja Dewa Simha dari Kerajaan Kanjuruhan di wilayah Jawa Timur. ☝

       Prasasti ke tiga adalah 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙇𝙄𝙂𝙊𝙍, 776 M
yang ditulis dengan menggunakan AKSARA NUSANTARA (KAWI) TIPE SRIWIJAYA untuk bagian Sisi A dan JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL  untuk sisi B, dimana masing-masing sisi menggunakan bahasa yg sama, yaitu SANSEKERTA. 
 
   Di Thailand 🇹🇭 prasasti ini dikenal dengan nama PRASASTI WAT SEMA MUANG diketemukan di kota NAKON SI THAMMARAT atau yg lebih dikenal dg sebutan nama LIGOR di provinsi WIANG SA (Vieng Sa). 

       Prasasti ke empat adalah 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙎𝙍𝙄 𝙍𝘼𝙉𝘼𝙋𝘼𝙏𝙄, 13 April 787 M, yg ditulis menggunakan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA/AWAL dan kemungkinan munculnya awal penggunaan BAHASA JAWA KUNA di dalam penggunaan bahasa pengantar penterjemahan sebuah aksara dalam prasasti (❓) 🤔🇲🇨

       Di bagian akhir prasasti disertakan nama seorang penulis prasasti sebagai sebuah jabatan penting, yaitu CITRA LEKHA bernama SANG WAYUR SAPACARLA.
 

𝐏𝐫𝐚𝐬𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐋𝐢𝐠𝐨𝐫 𝟕𝟕6 𝐌  🇹🇭

𝙏𝙍𝘼𝙉𝙎𝙆𝙍𝙄𝙋𝙎𝙄 dan 𝙏𝙀𝙍𝙅𝙀𝙈𝘼𝙃𝘼𝙉𝙉𝙔𝘼 { 𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 dan 𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 pada 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 dan 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘽 }.

       Di dalam penyajian secara ALIH AKSARA dan ALIH BAHASA  mengikuti versi GEORGE COEDES (1886 - 1969) dan LOUIS CHARLES DAMAIS (1911 - 1966) ☝🇮🇩

       
𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 (Baris ke 1-29) :

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 baris 1 - 13 :👇

(1) || "... visāriņyā kīrttyā naya vinaya śaurayya 'sruta sama kşama (2) dhairyya tyāga dyuti matidayādyakşaya bhuvāparam yasyā (3) krāntā
bhuvanakutubhujām kīrttivisarā mayūkhās tārāņām śaradi (4) tuhināńśor iva rucā ||guņānăm ādhāras tuhinagiri (5) kūţādhikarucā guņādhyānām pumsām api jayati yas tuńga (6) yasa sām maņīnām bhūrinām duritabhidudan vāniwa mahā (7) n manijyotir lekhāvalayiśirasāń cāpi phaņiňam (8) dhanavikalatābah nijvālā valik şapi tāsayā yama (9) bhipatitā ye te svāmyam param samupāgatāh hradami (10) va gajā nityā ko - ~ pannaśubhāmbhāsam savitari ta (11) pasty agre sevyum saroja rajo ruņam ||guņabhŕtam upa (12) gamya yam guņādhyā~~~~rā manumā samam samantat (13) madhusamayam ivām rakesarādyāś śriyam adhikān dadhate ma (14) hīruhendrāh..." ||

///
Translate AI: Dengan kebajikan, kesopanan, keberanian, kesabaran, pengendalian diri, kemurahan hati, dan pengampunan, seseorang mencapai puncak dunia. Orang yang melampaui cahaya, seperti matahari bagi para bintang di musim gugur dan bersinar seperti salju, dicintai karena kebajikan. Yang memiliki gunung kebajikan, puncak yang indah, dan meditasi kualitas, orang itu menaklukkan manusia lainnya. Dengan cahaya seperti mutiara besar, yang jatuh dari lidahnya terkadang mengalir, cahayanya seperti api harta benda. Mereka yang telah menundukkan ego mereka dan mendekati pemimpin tertinggi, mendapatkan kebaikan abadi. Cahaya yang indah menyerupai matahari yang terbit di depan, seperti bunga teratai dalam debu. Dengan membawa kebajikan, mereka mencapai puncak berkah, menyebarkan kemakmuran, seperti madu bagi semua, menambahkan kemuliaan bagi kerajaan.

///

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 baris 1-14 =👇

|| "...Kejayaan yg telah menjadi kekal abadi akibat sikap berhati-hati, rendah hati, pengetahuan, keheningan, jiwa, kesabaran, keberanian, kemurahan hati, keagungan, kecerdasan, rasa iba hati, dan sifat-sifat mulia lainnya. 

(Kekayaan itu) Sambil menyebar, memudarkan sama sekali, pancaran kejayaan raja-raja sebagaimana terang cahaya bulan di musim gugur (memudarkan). 

Cahaya bintang, lagi pula (Raja) yang merupakan wadah segala kebajikan itu, di dunia yang ini menjadi (dukungan) orang-orang yang penuh kebajikan, secerlang puncak-puncak Himalaya, dan yang sangat masyur. 

Sebagaimana pula samudra besar pembasmi keburukan yang (menjadi wadah) sejuta permata, merupakan (wadah) Kaum Naga yang tudung kepalanya dikelilingi kalangan cahaya permata.
 
Setelah mereka yang hatinya tadinya dimakan jilatan api ke-papa-an, datang menemuinya, mereka menyerahkan diri pada kekuasaannya yang luar biasa.
 
Sebagaimana pula gajah-gajah, apabila matahari sedang terik, mempunyai kebiasaan mencari keteduhan dalam kolam dengan air heningnya
yang telah surut, dan yang disepuh serbuk sari bunga seroja. 

Orang-orang baik budi, yang dari segala sudut mendekati raja yang penuh kebijakan dan mirip Manu. 

Karena... itu, menerima darinya kekayaan (śrī = cahaya) yang besar sekali, sebagaimana (menjelang) musim semi, raja-raja pohon;
mulai dari pohon mangga, dan Kesara {menerima keindahan (śrī = cahaya) yang luar biasa}..." ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝙖𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 baris 15 - 16 :👇

|| "... jayati ayam śrivijayendrarāja (15) samantarājārccitig māsanaśrih prasastadharmma sthiraton mukhena (16) vinirmmito viśvasjeva yatnāt... "

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 baris 15-16 =👇

|| "... Jayalah Raja Sriwijaya, yang Sri (cahaya) nya dihangatkan tempat duduknya oleh sinar-sinar yang dipancarkan raja-raja sekitarnya, dan diciptakan dengan tekun oleh Brahma, seakan-akan Dewa ini hanyalah memikirkan langgeng nya Dharmma yang masyur itu... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 baris 17-19:👇

|| "... çrīvijayeśvarabhūpati- (17) r emaguņo ghanakşitita lasarvvasaman [tanrpot tama ekah (18) sthāpita aişţikagehavaratrayam etat kajarakaramārani sūdana [bajrinivāsam... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 baris 17-19 =👇

|| "... Sang Bhupati Sriwijaya, Satu-satunya  penguasa di antara penguasa di seluruh muka bumi, telah mendirikan ketiga bangunan bata yang indah ini bagi Kajakara ( = Padmapani), bagi Pembasmi Mara ( = yaitu Sang Buddha-Sakyamuni), dan bagi Wajrin ( = Wajrapatni)... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 Baris 20 - 21:👇

|| "... sa~tam etat tri samaya caitya niketam (20) n daśadigavasthitasavvaji sarvvajagatmalabhū [nottamadattam (21) dharakuli avaram tribhavavibhutiviśeşadam 
[amarapadam... " ||

𝘼𝙇𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 Baris 20 -21 =👇

|| "... Kediaman Dewata itu yang terdiri dari Tiga Caitya berkelompok, (yang dapat disamakan) dengan sebentuk intan yang indah di tengah-tengah gunung kotoran jagat raya, dan yang memberi kecemerlangan istimewa kepada ketiga dunia, telah diserahkan kepada yang terbaik di antara Para Jina yang mendiami kesepuluh penjuru... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 Baris  22 - 25:👇

(22) || "...punar api jayantanāma rājāsthavironŕpena saniyuktah stū (23) patrayam asi kurvvity atas satad idan tatkā kŕtawān... " || "... svarite (24) smims tacchisyo dhimuktir abhūcca tā matas sthavirah istikacai (25) tyadvitayam caityāntika  kŕtavan... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 Baris 22-25  =👇

|| "... Lalu, ketika penjaga kuil kerajaan yang bernama JAYANTA menerima dari raja perintah yang mulia ini:  "Buatlah tiga stupa ❗".
Dibuatnyalah stupa-stupa. 
Setelah JAYANTA itu meninggal, muridnya yaitu ; 
STHAWIRA ADHIMUKA selanjutnya membuat dua CAITYA dari batu bata di dekat ketiga CAITYA sebelumnya (yang didirikan) oleh Raja itu... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 Baris 26-28:👇

|| "... vŕddhyā(26)pte sākarāje mumna vara sakair mmūdhavai kādasāhe sukle ke(27)līralagne bhrgusutasahite sahite cāryyamaň jrotirāryyedewe(28) ndrabhena ca... " ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 Baris 26-28 =👇

|| "... Sesudah berlalulah (tahun) Sakaraja (yang dilambangkan) dengan muni ( =7), nawa ( = 9) , rasa ( = 6)  = 697 Syaka = 775 Masehi, Maghamasa,11 paruh terang, bulan Madhawa, ketika Matahari terbit diiringi Bintang Kejora (Venus), dalam Makara (Cancer)... ||
 

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 Baris 29 : 👇

|| "... Çrivijayaņrpatinaryak şiti sottamena trai(29)lokya i karya cintāmaņi vapuşa i [ha sthā] parās[t]upa~~..." ||

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 Baris 29 =👇

|| "... Raja Sriwijaya yang bagaikan Raja Para Dewa yang mengungguli Raja-Raja lainnya, yang rupanya seperti CINTAMANI, yang memperhatikan ke tiga dunia
( TRILOKYA), telah mendirikan STUPA... " ||

{ G. Coedes, 1918: 26 - 30 }

𝙏𝙄𝙉𝙅𝘼𝙐𝘼𝙉 𝙄𝙎𝙄 (Deskripsi) .👇🇮🇩

𝙎𝙄𝙎𝙄  𝘼 (Baris 1-29) = 👇

      Baris ke 1-14 berisi tentang puji-pujian terhadap sosok seorang raja (Sriwijaya🤔). 

       Baris ke 15-16, untuk pertama kali sosok Raja Sriwijaya tanpa identitas nama dan gelar disebutkan dalam sebuah pujian sebagai : "... Jayati ayam 𝙎𝙍𝙄𝙑𝙄𝙅𝘼𝙔𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼... "☝
(Jayalah Raja Sriwijaya) 

       Baris ke  17-19, untuk kedua kali sosok raja Sriwijaya  disebutkan sebagai 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝙀𝙎𝙒𝘼𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐𝙋𝘼𝙏𝙄 yang memerintahkan pengikutnya mendirikan tiga bangunan suci (TRISAMAYA CAITYA) bagi Tiga Bodhisatwa; Mara (Iblis Sang  Perusak), Padmapani (kajakara) dan Wajrapadni (bajrini). 

        Baris ke 20-21, tentang pujian keistimewaan akan kemegahan nan magis terhadap ketiga bangunan;  𝙏𝙍𝙄𝙎𝘼𝙈𝘼𝙔𝘼 𝘾𝘼𝙄𝙏𝙔𝘼 yang terbuat dari bata merah tsb. 

       Baris ke 22-25, menceriterakan tentang seorang pengikut setia Sang Raja Sriwijaya yg menerima perintah mendirikan ketiga bangunan STUPA ; TRI SAMAYA CAITYA yang bernama JAYANTA.
 
Setelah ketiga bangunan suci tersebut rampung berdiri, JAYANTA meninggal dunia. 
Selanjutnya muridnya bernama STHAWIRA ADHIMUKA meneruskan dengan menambahkan dua 
buah CAITYA yang terbuat dari batu bata di dekat ketiga CAITYA yg ada sebelumnya. ☝

       Baris ke 26-27 , menguraikan tentang 𝙏𝘼𝙍𝙄𝙆𝙃 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄. ☝🇲🇨

       Mengingat Prasasti Ligor tersebut dikeluarkan pada Bulan Mmudhawai = Maghamasa = bulan ke 11 ( Januari - Pebruari ) maka mengikuti rumusan untuk pembacaan Tahun Syaka ke Tahun Masehi ditambahkan + 79 tahun, sehingga pembacaan yang benar untuk Tarikh Prasasti Ligor adalah tahun 776 M☝

       Sedangkan untuk perhitungan di luar bulan tersebut, yaitu bulan : Caitra, Waisyaka, Jyesta, Asada, Srawana, Bhadrawada, Asuji,  Kartika, Margasira, Pasya, dan Phalguna, ketentuannya tetap ditambahkan +78 tahun☝🇲🇨

(Goenawan A. Sambodo, Dari Prasasti ke Prasasti. Komunitas Taksaka, 2020:28).

       Hasil perhitungan matematis menurut rekan 𝑨𝒏𝒋𝒓𝒂𝒉 𝑾𝒊𝒅𝒂𝒚𝒂𝒌𝒂 adalah:

WARA : wa ( Was), 
               wa (Wage), 
               ra (Raditya=Minggu). 

WUKU:  Kuruwlut  (ke-17). 

WULAN: Magha (Januari-Pe-
                  bruari). 

Ekuivalen : 7 JANUARI 776 M

       Baris ke 28-29, untuk yang ketiga kalinya disebutkan sosok raja Sriwijaya dengan  𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼𝙉𝙀𝙍𝙋𝘼𝙏𝙄𝙉 yang dipuji sebagai penguasa Tiga Dunia (Trailokya) bagaikan Sang CINTAMANI selaku
pendiri stupa . 

𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘽 (Baris 1 - 4) :👇

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 (Baris 1-4) : 

(1)|| "...swasti. 
yo' sau rājādhirājas sakalaripugaņadhvāntasūryyo(2)pamaikas svaujobhih kāntalakşmyā saradamalaśaśi manmathābho vapu(3)şman vişnņwākhyo' seşarvvārimadavimathana's ca dvitīyas svaśaktyā sau(4) yam śailendravańśaprabh[u] nigadatah srī mahārājanāmā|| taskya ca sakalara...." 

𝘼𝙡𝙞𝙝 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 Sisi B (baris 1-4) :

Versi 𝙂. 𝘾𝙊𝙀𝘿𝙀𝙎 =👇
(1918) 

|| Selamat !

Rajadhiraja ini; satu-satunya yang karena cemerlangnya dapat disamakan dengan Matahari 'yang menghalau' malam, yaitu rombongan semua musuh-musuhnya itu.

Yang dengan keindahannya penuh pesona mirip bulan musim gugur tanpa cela. 

Yang rupanya seperti Titisan Kama. 

Yang rupanya seperti Wisnu. Pemimpin Wangsa Sailendra bernama Sri Maharaja.... "||☝

Versi 𝙒𝘼𝙇𝙏𝙀𝙍 𝘼𝙄𝘾𝙃𝙀𝙇𝙀:👇
(1918) 

|| Selamat !

RAJADHIRAJA yang karena semangatnya/kegemilangan nya bersifat tunggal bagaikan Sang Matahari penghalau kegelapan. 

Yang diwujudkan oleh gerombolan semua musuhnya. 

Yang karena ke rupawan annya, yang memikat/karena keindahan bulan Kanta, adalah bulan di musim gugur aqyang tiada cacatnya. 

Dan yang karena daya pikatnya, memiliki rupa  seperti MANMATHA (RAJA) itu bernama WISNU. 

Yang berkat kepercayaannya bagaikan DEWA WISNU, 

yang Penghancur Kesombongan semua Musuhnya ( = SESARWARIMADAWIMATANA), 
 
dan yang dinamakan SRI MAHARAJA, untuk mewujudkan bahwa asal-usulnya dari KELUARGA RAJA SAILENDRA, tentangnya... ||☝

Versi 𝙇. 𝘾𝙃𝘼𝘽𝙍𝘼 (1965) :👇

||    Selamat  ! 

(Tafsiran tarikh pemindahan dari bagian SISI A baris ke 26-27, DIHILANGKAN❗ Guna penyamaan persepsi terjemahan ☝🇮🇩) 

Ia (yang) adalah Maharaja dari semua raja (yang) (=RAJADHIRAJA) melalui kekuasaannya (seperti) DEWA SURYA (Matahari) itu sendiri menghalau kegelapan (dalam bentuk) semua musuhnya. 

Ia (yang) berwajah sungguh sempurna (bagaikan) bulan purnama di musim gugur yang tanpa cela (dan) bagaikan  DEWA KAMA itu sendiri. 

Ia (yang) bagaikan DEWA WISNU (yang) secara keseluruhan (memusnahkan) kebanggaan semua musuh-musuhnya. 

Dan (yang) dengan (memperlihatkan) semua kehebatannya seketika itu juga. 

Ia (yang) masyur itu dikenal dengan sebutan SRI MAHARAJA, karena ia berasal dari (keturunan) SAILENDRA WANGSA, 

dan tentang dirinya... dari semua raja (?)... ||

𝙏𝙞𝙣𝙟𝙖𝙪𝙖𝙣 𝙎𝙞𝙨𝙞 𝘽 (Baris 1-4) =.👇

      Dari penyebutan di bagian pembuka (manggala) prasasti pada umumnya yang digunakan di  Asia Tenggara, maka sebutan pada SISI B, yaitu 𝙎𝙑𝘼𝙎𝙏𝙄 yang berarti; SELAMAT ❗ (Beruntung, Berhasil, Makmur, Bernasib baik) ber indikasi sebagai bagian a wal pembacaan prasasti dimulai. ☝

        Sedangkan untuk bagian awal pembukaan (manggala) yg digunakan pada SISI A, yaitu dimulai dengan kata VISĀRIŅYĀ , yang berarti "menyebar, maju/tampil ke depan", berasal dari akar kata VISARIN yang tidak umum dan berbeda  dalam tradisi penulisan Prasasti Sansekerta di Asia Tenggara (Monier-williams, 1899:1001, 1283).

         Kalimat pendek berikutnya menyebutkan 𝙍𝘼𝙅𝘼𝘿𝙃𝙄𝙍𝘼𝙅𝘼𝙎, yang dapat diartikan sebagai RAJA dari SEGALA RAJA (King of King's) 👍 
         
       Pada baris ke-3 disebutkan kata 𝙑𝙄𝙎𝙉𝙐𝙑𝘼𝙆𝙔𝙊 yang berarti memiliki penampilan bagaikan WISNU ( Coedes, 1918: 32; 1959:47;  Coedes & Damais, 1992: 110).

          Selanjutnya diikuti oleh julukan (Epiteton = Epithets) sebagai 𝙎𝘼𝙍𝙑𝙑𝘼𝙍𝙄𝙈𝘼𝘿𝘼𝙑𝙄𝙈𝘼𝙏𝙃𝘼𝙉𝘼, yang berarti: " 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖" ( Coedes, 1918: 29;  Coedes & Damais, 1992: 108).
        
       Pada baris ke 4 disebutkan secara jelas dan terperinci seorang raja/penguasa dari Dinasti /Wangsa/Keluarga Sailendra; 
𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼𝙋𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐 yang bernama 𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼 (𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼𝙉𝘼𝙈𝘼𝙃). ☝

𝘼𝙉𝘼𝙇𝙄𝙎𝘼 (KAJIAN 𝙆𝙊𝙉𝙏𝙀𝙆𝙎𝙏𝙐𝘼𝙇- 𝙆𝙊𝙈𝙋𝘼𝙍𝘼𝙏𝙄𝙁). ☝🇮🇩

           
         Berdasarkan penyajian dan tinjauan data di atas bahwa Prasasti Ligor 776 M memiliki arti keterkaitan satu sama lain antara Sisi A dengan SISI B, yang didasarkan kepada beberapa bukti antara lain :

𝙋𝙀𝙉𝙂𝙂𝙐𝙉𝘼𝘼𝙉 𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙆𝘼𝙒𝙄 / 𝙉𝙐𝙎𝘼𝙉𝙏𝘼𝙍𝘼 - 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙆𝙐𝙉𝘼 𝘿𝙀𝙉𝙂𝘼 𝙆𝘼𝙍𝘼𝙆𝙏𝙀𝙍 𝘽𝙀𝙍𝘽𝙀𝘿𝘼. 👇

         Adanya penggunaan Tipe Aksara yang berbeda, yaitu 𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙆𝘼𝙒𝙄  𝙏𝙄𝙋𝙀 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 (776 𝙈) pada 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙆𝙎𝘼𝙍𝘼 𝙆𝘼𝙒𝙄 𝙏𝙄𝙋𝙀 Ś𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 pada 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘽, tentu sebagai sebuah indikasi adanya pengaruh 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙉𝙄𝙉𝙂𝙍𝘼𝙏 𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 (Tokoh Raja dan Kerajaan) terhadap 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙪𝙖𝙨𝙖 𝙎𝙧𝙞𝙬𝙞𝙟𝙖𝙮𝙖 di Abad ke VIII M. 

       Perbedaan secara signifikan tampak pada gaya dan corak penulisan Aksara Kawi-Nusantara pada bagian Sisi-A dengan Sisi B yg disebabkan oleh faktor subjektif masing-masing 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝘾𝙞𝙩𝙧𝙖 𝙇𝙚𝙠𝙝𝙖 (Petugas Kerajaan  Penulis Prasasti).

       Namun demikian adanya penggunaan AKSARA KAWI-NUSANTARA dengan tipe yg berbeda tersebut sangat besar kemungkinannya adanya pengaruh dan keterkaitan yang erat antara kedua isi maklumat pada kedua sisi prasasti ; sehubungan dengan dua orang tokoh penguasa, yaitu RAJA 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 dan RAJA  𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼, berkaitan dengan pendirian  monumen 𝙏𝙍𝙄𝙎𝘼𝙈𝘼𝙔𝘼 𝘾𝘼𝙄𝙏𝙔𝘼 yang dibangun secara berkala sebelum tahun  776 M .  👍🇮🇩

       Tentang bagaimana, kapan, untuk tujuan apa penguasa /Raja Jawa menggunakan pengaruhnya melalui Penggunaan Aksara Jawa Kuna melalui penulisan sebuah prasasti sebagai maklumat/titah/perintah penetapan pada Sisi B hingga ke  Wilayah Ligor (Perbatasan Wilayah Semenanjung Thailand 🇹🇭 dan Malaya 🇲🇾) ; tentu memiliki satu alasan, yaitu untuk sebuah KEPENTINGAN  POLITIK (HEGEMONI) KEKUASAAN. ☝🇮🇩

       Namun bagaimana proses tersebut berlangsung ❓🤔
akan tetap menjadi sebuah misteri  dan  dilematika 🤔

𝙋𝙀𝙉𝙂𝙂𝙐𝙉𝘼𝘼𝙉 𝙆𝘼𝙏𝘼 𝙋𝙀𝙈𝘽𝙐𝙆𝘼 (𝙈𝘼𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇𝘼) 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙏𝙄. 👇
       
       Menurut penilaian beberapa orang Sejarawan 
tentang arti dan makna  penulisan PRASASTI LIGOR  776  M, yaitu diantaranya:

𝙈𝘼𝙅𝙐𝙈𝘿𝘼𝙍 :
Menduga bahwa kedua sisi (SISI A dan SISI B) merupakan dua halaman prasasti yang berbeda ( Majumdar, 1933: 122).

𝘾𝙊𝙀𝘿𝙀𝙎 :
pada awal mulanya mengira bahwa teks dalam Prasasti Ligor 776 M merupakan satu kesatuan prasasti. Pada akhirnya dia mengikuti tesis Majumdar, bahwa terdapat perbedaaan di kedua sisi prasasti (SISI A dengan SISI B). 
Pada SISI-A ; menyebutkan seorang penguasa Raja (nrpa, nrpati, bhupati, indra raja) dan mungkin Raja dari Segala Raja ( isvarabhupati) SRIWIJAYA☝. 
       Sedangkan pada SISI-B menyebutkan Penguasa SAILENDRA dengan MAHARAJA (great king) dan RAJADHIRAJA (king of kings) (Coedes, 1918: 2-3; 1959: 42-48; Coedes & Damais 1992: 103-111).

𝙈𝙊𝙉𝙄𝙀𝙍-𝙒𝙄𝙇𝙇𝙄𝘼𝙈𝙎: memperhitungkan dengan  adanya kata pembuka (manggala) pada kedua sisi prasasti, yang dimulai dari SISI-B dg adanya kata 𝙎𝙑𝘼𝙎𝙏𝙄 yang berarti "selamat/keberuntungan" (fortune, luck, succes, prosperity).                Namun pada bagian SISI-A kata  pembuka dimulai dg kata  𝙑𝙄𝙎𝘼𝙍𝙄𝙉𝙔𝘼, yang berarti "menyebar" (spreading, diffusing, coming forth) yang keluar dari akar kata 𝙑𝙄𝙎𝘼𝙍𝙄𝙉 yang tidak umum digunakan di dalam tradisi penulisan Prasasti Sansekerta di kawasan Asia Tenggara (Monier-Williams, 1899: 1001, 1283).

𝘽𝙊𝙎𝘾𝙃:  
Mengemukakan bahwa Prasasti Ligor merupakan teks tunggal, yang menyarankan agar teks dg aksara yang sama tersebut harus dibaca dimulai dari SISI-B berlanjut ke SISI-A☝ (Bosch, 1941: 26-38).

       Dari beberapa thesa di atas sebagai landasan teori untuk digunakan sebagai langkah awal pembacaan Prasasti Ligor yang memiliki dua sisi halaman yang berbeda (SISI-A dan SISI-B) dengan pembahasan dimulai dari SISI B ☝👇🇮🇩

𝙄𝘿𝙀𝙉𝙏𝙄𝙁𝙄𝙆𝘼𝙎𝙄 𝙏𝙊𝙆𝙊𝙃 𝙍𝘼𝙅𝘼 
𝙎𝙀𝘽𝘼𝙂𝘼𝙄 𝙋𝙀𝙉𝙂𝙐𝘼𝙎𝘼. 👇

𝙎𝙄𝙎𝙄-𝘽 (Bagian Awal) =

• 𝙍𝘼𝙅𝘼𝘿𝙃𝙄𝙍𝘼𝙅𝘼 (Baris = 1:
   Raja dari segala Raja /King 
   of Kings). ☝

• 𝙑𝙄𝙎𝙉𝙑𝘼𝙆𝙃𝙔𝙊 𝙎𝙀𝙎𝘼𝙍𝙑𝙑𝘼𝙍𝙄
   𝙈𝘼𝘿𝘼𝙑𝙄𝙈𝘼𝙏𝙃𝘼𝙉𝘼 (Baris :
   3 =  Bagaikan WISNU,
   Menghancurkan Kebangga- 
   an Semua Musuhnya ✊

• 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝙑𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼  𝙋𝙍𝘼-
   𝘽𝙃𝙐 (Baris : 4 = Raja dari  
   Wangsa Sailendra). ☝

• 𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼𝙉𝘼𝙈𝘼𝙃.    
   (Baris : 4 = Bernama  Sri     
   Maharaja). ☝

       Siapakah seorang tokoh yang dimaksud, bernama 𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼 (❓) 🤔 yang bergelar sebagai 𝙍𝘼𝙅𝘼𝘿𝙃𝙄𝙍𝘼𝙅𝘼 atau RAJA DARI SEGALA RAJA (KING OF KINGS) dan dijuluki (Epiteton) 𝙑𝙄𝙎𝙉𝙑𝘼𝙆𝙃𝙔𝙊 𝙎𝙀𝙎𝘼𝙍𝙑𝙑𝘼𝙍𝙄𝙈𝘼𝘿𝘼𝙑𝙄𝙈𝘼𝙏𝙃𝘼𝙉𝘼 ( = 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙒𝙞𝙨𝙣𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣  𝙆𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 ✊), seorang raja yang berasal dari WANGSA SAILENDRA  (𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼  𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙋𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐) 🤔🇮🇩

       Secara analisa kontekstual terdapat beberapa sumber primer yang menyebutkan julukan/EPITON (epithets) seorang raja dari WANGSA SAILENDRA (Sailendra wangsatilaka) , diantaranya adalah :

1) 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙆𝙀𝙇𝙐𝙍𝘼𝙆 782 
     M:

     𝙑𝘼𝙄𝙍𝙄𝙑𝘼𝙍𝘼𝙑𝙄𝙍𝘼𝙑𝙄𝙍𝘼𝙈𝘼𝙍-
     𝘿𝘼𝙉𝘼 = " 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧 
     𝙋𝙖𝙝𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝 𝙏𝙚𝙧𝙗𝙖𝙞𝙠 "
     mengacu kpd tokoh SRI
     SANGGRAMADHANAN-
     JAYA. 👍🇮🇩

2) 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙇𝙄𝙂𝙊𝙍 776 M:

     𝙎𝘼𝙍𝙑𝙑𝘼𝙍𝙄𝙈𝘼𝘿𝘼𝙑𝙄𝙈𝘼-
     𝙏𝙃𝘼𝙉𝘼 = " 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧-
     𝙠𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖
     𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 ", yang menga-
     cu pada SRI MAHARAJA 
     RAJADHIRAJA☝🇮🇩

3) 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙉𝘼𝙇𝘼𝙉𝘿𝘼 843-
     850 M:

      SRIVIRAVAIRIMATHANA   
       =  " 𝙋𝙚𝙣𝙮𝙞𝙠𝙨𝙖/𝙋𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙠 
       𝙏𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙮𝙪𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝   
       𝙋𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 ", yg mengacu 
       kepada seorang RAJA 
       JAWA (YAVABHUMIPA-
       LAH) kakek BALAPUTRA
       ☝🇮🇩

(Coedes, 1918: 29; Coedes & Damalis, 1992: 108; Nilakanta Sastri, 1949: 126-127).

https://www.facebook.com/share/p/1A6uQ41T2i/

       Dari uraian analisa kontekstual di atas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud 𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼  𝙉𝘼𝙈𝘼  yang dijuluki sebagai 𝙍𝘼𝙅𝘼𝘿𝙃𝙄𝙍𝘼𝙅𝘼  (Raja dari Segala Raja) dg epiton  "𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙒𝙞𝙨𝙣𝙪 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣  𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖" (𝙑𝙄𝙎𝙉𝙑𝘼𝙆𝙃𝙔𝙊 𝙎𝙀𝙎𝘼𝙍𝙑𝙑𝘼𝙍𝙄𝙈𝘼𝘿𝘼𝙑𝙄𝙈𝘼𝙏𝙃𝘼𝙉𝘼𝙎) dan berasal dari SAILENDRA WANGSA (𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝙑𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙋𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐) adalah IDENTIK dengan tokoh Raja 𝙎𝙍𝙄 𝙎𝘼𝙉𝙂𝙂𝙍𝘼𝙈𝘼𝘿𝙃𝘼𝙉𝘼𝙉𝙅𝘼𝙔𝘼
(Prasasti Kelurak 782 M)👍🇮🇩 atau yang disebut sebagai 𝙍𝘼𝙅𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼  (𝙮𝙖𝙫𝙖𝙗𝙝𝙪𝙢𝙞) yang memiliki putera bernama 𝙎𝘼𝙈𝘼𝙍𝘼𝙂𝙍𝘼𝙒𝙄𝙍𝘼 (Raja Sriwijaya ?) yang menikah dengan 𝙏𝘼𝙍𝘼 anak 𝘿𝙃𝘼𝙍𝙈𝘼𝙎𝙀𝙏𝙐 yang berasal dari 𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙎𝙊𝙈𝘼 (rajnyah somakulanvayasya maharaja sri dharmasetoh suta) merupakan 𝙆𝘼𝙆𝙀𝙆 dari  𝘽𝘼𝙇𝘼𝙋𝙐𝙏𝙍𝘼 Raja 𝙎𝙒𝘼𝙍𝙉𝘼𝘿𝙒𝙄𝙋𝘼 yang juga berasal dari 𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 ("... 𝙎𝙖𝙞𝙡𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖𝙫𝙖𝙣𝙨𝙖𝙩𝙞𝙡𝙖𝙠𝙤 𝙔𝙖𝙫𝙖𝙗𝙝𝙪𝙢𝙞𝙥𝙖𝙡𝙖𝙝... " ) = baris ke-52 Prasasti Nalanda 843-850 M).

https://www.facebook.com/share/14QkGbzqnH/

(Nilakanta Sastri, 1924: 322-324: 1949: 126-127).👍🇮🇩

𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 (Bagian Akhir) =

       Intisari tentang makna ditulisnya bagian SISI A Prasasti Ligor (7 Januari 776 M) adalah adanya seorang Raja Penguasa Kerajaan Sriwijaya yang disebut bbrp kali dengan julukan (Epiton) :

• 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼
   (Baris ke-11).

• 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝙀𝙎𝙒𝘼𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐-
   𝙋𝘼𝙏𝙄 (Baris ke-16). 

• 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼𝙉𝙀𝙍𝙋𝘼𝙏𝙄 
   (Baris ke-28). 

yang memberikan perintah pada waktu  sebelumnya kepada pengikutnya bernama 𝙅𝘼𝙔𝘼𝙉𝙏𝘼 untuk mendirikan sebuah kuil/𝙘𝙖𝙞𝙩𝙮𝙖 bernama 𝙏𝙍𝙄 𝙎𝘼𝙈𝘼𝙔𝘼. 

       

𝙆𝙊𝙉𝙏𝙀𝙆𝙎𝙏𝙐𝘼𝙇- 𝙆𝙊𝙈𝙋𝘼𝙍𝘼𝙏𝙄𝙁 ANTARA 𝙆𝙀𝘿𝙐𝘼 𝙋𝙀𝙉𝙂𝙐𝘼𝙎𝘼;  RAJA 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 DENGAN DENGAN SRI MAHARAJA 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼👍🇮🇩

 
      Secara kajian  𝙆𝙊𝙈𝙋𝘼𝙍𝘼𝙏𝙄𝙁, adanya gelar penguasa yang disandang oleh kedua Raja di atas tampak sangat berbeda jika diperbandingakan dan dikaitkan satu sama lain akan memiliki arti dan penafsiran yang berbeda pula. ☝
  
       Penguasa 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼  hanya menggunakan  Epiton
(SRIWIJAYA)-𝙄𝙉𝘿𝙍𝘼 𝙍𝘼𝙅𝘼, (SRIWIJAYA)- 𝙄𝙎𝙒𝘼𝙍𝘼𝘽𝙃𝙐𝙋𝘼𝙏𝙄, (SRIWIJAYA)-𝙉𝙀𝙍𝙋𝘼𝙏𝙄.
       Adanya Epiton 𝘽𝙃𝙐𝙋𝘼𝙏𝙄, mengindikasikan status sebagai raja bawahan (𝙫𝙖𝙨𝙖𝙡) dari sebuah pengaruh kekuasaan yang lebih dominan di atasnya☝🇮🇩

         Perbedaan sebaliknya lebih dominan pada Epiton yang digunakan oleh Penguasa SAILENDRA, yaitu 
RAJA DHIRAJA yang berarti penguasa atas  RAJA dari SEMUA/SEGALA/SELURUH RAJA (𝙆𝙞𝙣𝙜 𝙤𝙛 𝙆𝙞𝙣𝙜'𝙨), yang merupakan gelar kebesaran dari SRI MAHARAJA 👍🇲🇨
        
         Dengan demikian dapat disimpulkan secara 𝙆𝙊𝙉𝙏𝙀𝙆𝙎𝙏𝙐𝘼𝙇 bahwa hubungan dan kaitan 𝙈𝘼𝙆𝙉𝘼 antara 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘽 dan/dengan 𝙎𝙄𝙎𝙄 𝘼 ;  PRASASTI LIGOR (7 Januari 776 M) adalah 𝙏𝙄𝙏𝘼𝙃/PERINTAH dari/oleh RAJA PENGUASA TERTINGGI (RAJADHIRAJA-SRI MAHARAJA) SAILENDRA kepada RAJA SEKUTU BAWAHANNYA (VASAL) SRIWIJAYA untuk menjalankan tugas amanah pembangunan 𝙏𝙍𝙄-𝙎𝘼𝙈𝘼𝙔𝘼 𝘾𝘼𝙄𝙏𝙔𝘼☝ 
       
       Kejadian/Fenomena di  atas tentu terjadi sebagai akibat adanya  SEBUAH KEPENTINGAN, terutama POLITIK HEGEMONI KEKUASAAN akibat perseteruan yang telah berlangsung sejak seabad yang lalu (Abad ke VII) ☝🇲🇨
         
       Di dalam pengkajian isi PRASATI LIGOR (7 Januari 776 M) terdapat sebuah fenomena sejarah di Abad ke VIII M tentang 𝘿𝙊𝙈𝙄𝙉𝘼𝙎𝙄  𝙍𝘼𝙅𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 (𝙮𝙖𝙫𝙖𝙗𝙝𝙪𝙢𝙞𝙥𝙖𝙡𝙖𝙝 = kakek Balaputradewa) 𝙎𝙍𝙄 𝙎𝘼𝙉𝙂𝙂𝙍𝘼𝙈𝘼𝘿𝙃𝘼𝙉𝘼𝙉𝙅𝘼𝙔𝘼 yang berasal dari 𝙒𝘼𝙉𝙂𝙎𝘼 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 (𝙎𝙖𝙞𝙡𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖- 𝙫𝙖𝙢𝙨𝙖𝙩𝙞𝙡𝙖𝙠𝙤) yang mendominasi SRIWIJAYA hingga  ke wilayah kekuasannya di LIGOR ; Semenanjung THAILAND🇹🇭 - MALAYA🇲🇾
         
           Dari sebuah Dominasi Kekuasaan tersebut kemudian dimunculkan sebuah Pakta /𝘼𝙇𝙄𝘼𝙉𝙎𝙄/Persekutuan bersama  secara Politik di dalam menjaga dan menguasai jalur perdagangan di wilayah strategi Selat Malaka (jalur perdangan CINA 🇨🇳, INDIA 🇮🇳, ASIA TENGAH, dan  EROPA), bahkan kemungkinan besar terdapat indikasi  kerja sama dalam invasi wilayah secara militer ke kawasan Asia Tenggara  bagian Utara (Indo Cina) ☝🇮🇩

        𝘿𝙤𝙢𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞 Penguasa 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 terhadap kekuasaan 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 dapat dibuktikan dengan beberapa indikasi antara lain ; disebutkan dalam Catatan Berita Cina 🇨🇳  Jaman Dinasti Tang (618-690 & 705-907 M) tentang pengiriman duta utusan terakhir dari 𝙎𝙃𝙄𝙃-𝙇𝙄-𝙁𝙊-𝙎𝙃𝙄𝙃 (SRIWIJAYA) pada  tahun 742 M. ☝

Bahkan  dominasi Sriwijaya semakin melemah setelah wilayah yang dikuasainya berdiri secara otonom dg masing-masing wilayah mengirimkan duta utusan ke China 🇨🇳 , yaitu antara lain ;
𝙂𝙀-𝙇𝙊 (Kedah di Malaysia🇲🇾) pada tahun 742 dan 759 M, 𝙃𝙀-𝙇𝙄𝙉𝙂 antara tahun 768 - 818 M, 𝙎𝙃𝙀-𝙋𝙊 antara tahun 820 - 873 M, dan 𝙕𝙃𝘼𝙉-𝘽𝙀𝙄 (Jambi di Sumatra ) mengirim duta utusan pada tahun 852 dan 871 M (Jordan & Colles, 2009: 67-69).☝

        Indikasi lain adanya bentuk 𝘼𝙇𝙄𝘼𝙉𝙎𝙄 (Persekutuan) 🤝 ditunjukan dg beberapa bukti invasi militer gabungan (Pakta) ✊antara pasukan  𝙎𝙃𝙀-𝙋𝙊 (JAWA) dan 𝙆𝙐𝙉-𝙇𝙐𝙉 (SRIWIJAYA ?) yang menyerang wilayah TONKIN di VIETNAM pada tahun 767 M (Coedes, 1968: 91).☝

       Dua buah Prasasti peninggalan Kerajaan Campa dengan kode C-38 bertarikh 784 M dari 𝙋𝙊-𝙉𝘼𝙂𝘼𝙍 wilayah Nha-Trang, Propinsi Khan-Hoa dan Prasasti lainnya berkode C-25 bertarikh antara 799-800 M dari 𝙔𝘼𝙉𝙂-𝙏𝙄𝙆𝙐𝙃 di wilayah Propinsi Ninh-Thuan, menceriterakan tentang invasi militer besar-besaran melalui pelayaran laut dari 𝙅𝘼𝙒𝘼 yang dilakukan beberapa kali antara tahun 774 dan 787- 788 M (stanza VI = "... 𝙣𝙖𝙫𝙖𝙜𝙖𝙩𝙖𝙞𝙧 𝙟𝙟𝙖𝙫𝙖𝙫𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙜𝙝𝙖𝙞𝙧  ...") ✊

(Bergaigne, 1893: 207-218, 242-260; Majumdar: 1927: 41-44, 46, 50-56).

       𝘼𝙇𝙄𝘼𝙉𝙎𝙄 atau sebuah persekutuan bersama jangka panjang antara 𝙋𝙀𝙉𝙂𝙐𝘼𝙎𝘼 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 dengan 𝙋𝙀𝙉𝙂𝙐𝘼𝙎𝘼 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 ini berlangsung cukup lama, yang kemungkinan selanjutnya dijalin melalui hubungan kekerabatan perkawinan antar anggota kedua penguasa tsb, seperti yang dilakukan oleh kakek BALAPUTRADEWA, yaitu 𝙍𝘼𝙅𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 𝙎𝙍𝙄 𝙈𝘼𝙃𝘼𝙍𝘼𝙅𝘼 𝙎𝘼𝙉𝙂𝙂𝙍𝘼𝙈𝘼𝘿𝙃𝘼𝙉𝘼𝙉𝙅𝘼𝙔𝘼 yang menikahi TARA putri RAJA SRI DHARMASETU dari WANGSA SOMA (❓) = "...𝙧𝙖𝙟𝙣𝙖𝙝 𝙨𝙤𝙢𝙖𝙠𝙪𝙡𝙖𝙣𝙫𝙖𝙮𝙖𝙨𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙝𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙨𝙧𝙞𝙙𝙝𝙖𝙧𝙢𝙢𝙖𝙨𝙚𝙩𝙤𝙝 ..." 

(perlu sebuah kajian lebih lanjut secara teliti dan mendalam ☝🇮🇩). 

       𝘽𝘼𝙇𝘼𝙋𝙐𝙏𝙍𝘼 merupakan penerus PENGUASA 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝙅𝘼𝙒𝘼 di 𝙎𝙒𝘼𝙍𝙉𝘼 𝘿𝙒𝙄𝙋𝘼 (Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda 843-850 M: "...𝙨𝙪𝙫𝙖𝙧𝙣𝙖𝙙𝙫𝙞𝙥𝙖-𝙖𝙙𝙝𝙞𝙥𝙖𝙢𝙖𝙝𝙖𝙧𝙖𝙟𝙖-𝙨𝙖𝙞𝙡𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖𝙫𝙖𝙣𝙨𝙖𝙩𝙞𝙡𝙖𝙠𝙤-𝙮𝙖𝙫𝙖𝙗𝙝𝙪𝙢𝙞𝙥𝙖𝙡𝙤𝙝. ...") ☝🇮🇩
       Diperkirakan masa kekuasaannya tidak sekuat kakeknya, dimana Raja 𝙅𝙖𝙮𝙖𝙬𝙖𝙧𝙢𝙖𝙣 𝙄𝙄 di Kamboja mendirikan 𝙆𝙚𝙧𝙖𝙟𝙖𝙖𝙣 𝙆𝙝𝙢𝙚𝙧 dan melepaskan diri dari pengaruh kekuasaan Jawa pada tahun 802 M. ✌

       Sang kakek ;  𝙍𝙖𝙟𝙖 𝙅𝙖𝙬𝙖 𝙎𝙧𝙞 𝙈𝙖𝙝𝙖𝙧𝙖𝙟𝙖 𝙎𝙖𝙣𝙜𝙜𝙧𝙖𝙢𝙖𝙙𝙝𝙖𝙣𝙖𝙣𝙟𝙖𝙮𝙖 diperkirakan pula telah wafat pada tahun 792 M (𝙋𝙧𝙖𝙨𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙈𝙖𝙣𝙟𝙪𝙨𝙧𝙞𝙜𝙧𝙝𝙖 792 M) 😞

       Hubungan bilateral antara Sriwijaya dengan Cina 🇨🇳 terputus sejak penghentian duta/utusan terakhir dari 𝙎𝙝𝙞𝙝-𝙡𝙞-𝙛𝙤-𝙨𝙝𝙞𝙝 (Sriwijaya) pada tahun 742 M di Jaman Dinasti Tang (705-907 M), sebagai akibat Dominasi SAILENDRA di Abad ke VIII-IX M.
 
       Keadaan tersebut berlangsung cukup lama hampir sepanjang 100 tahun, yaitu dari tahun 742 - 904/
960 M. (❓) 🤔

      Keadaan  tersebut bisa  kita maklumi bersama, mengingat  pada masa pemerintahan BALAPUTRADEWA di SUWARNADWIPA ( = SUMATERA yg merupakan bagian wilayah kekuasaan SRIWIJAYA) tidaklah menjalin hubungan diplomatik dengan CINA di jaman Dinasti Tang II (705 - 907 M), melainkan dengan Dinasti PALA dari BENGALI di Wilayah India Utara, dimasa pemerintahan Raja DEWAPALADEWA (Prasasti Lempeng Tembaga Nalanda 843-850 M).

       Pada tahun 960 M kembali tercatat di dalam Berita Cina 🇨🇳 Jaman Dinasti Song-II (960-1279 M) datangnya duta/utusan dari 𝙎𝙖𝙣-𝙛𝙤-𝙦𝙞 (Sriwijaya) atas nama 𝙎𝙃𝙀-𝙇𝙄-𝙃𝙊𝙐-𝙏𝘼-𝙃𝙎𝙄𝘼, yang dimaksud yaitu 𝙎𝙍𝙄 𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝘿𝙄𝙏𝙔𝘼. 

       
       Hubungan 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼-𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 ini terus berlanjut dg adanya indikasi hubungan diplomatik dengan Penguasa Kerajaan 𝘾𝙤𝙡𝙖 di Wilayah India Bagian Selatan. ☝🇮🇳

       Beberapa Piagam masa pemerintahan 𝙍𝙖𝙟𝙖-𝙍𝙖𝙟𝙖 𝙄 (985-1012 M) dari 𝙒𝙖𝙣𝙜𝙨𝙖 𝘾𝙤𝙡𝙖 dari 𝙆𝙤𝙧𝙤𝙢𝙖𝙣𝙙𝙚𝙡 - 𝙄𝙣𝙙𝙞𝙖 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙩𝙖𝙣 yang ditulis dalam Bahasa Tamil dan Bahasa Sansekerta, masih memberitakan tentang hubungan SRIWIJAYA dan SAILENDRA  hingga awal Abad ke XII M. ☝

       𝙋𝙧𝙖𝙨𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙇𝙚𝙢𝙥𝙚𝙣𝙜 𝙏𝙚𝙢𝙗𝙖𝙜𝙖 𝙇𝙚𝙞𝙙𝙚𝙣 1006 𝙈 (Berbahasa Tamil dan Sansekerta), pada bagian berbahasa Sansekerta, mengkisahkan bahwa Raja 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙃𝘼 bernama 𝘾𝙐𝙇𝘼𝙈𝘼𝙉𝙄𝙑𝘼𝙍𝙈𝘼𝙉 mendirikan sebuah kuil/caitya Buddha di 𝙉𝘼𝙂𝘼𝙋𝘼𝙏𝙏𝙄𝙉𝘼𝙈. 
       Sang Raja mengaku lahir dari lingkungan keluarga 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 yang juga penguasa 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 dan memimpin pemerintahan di 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙃𝘼 = "... 𝙨𝙖𝙞𝙡𝙚𝙣𝙙𝙧𝙖𝙫𝙖𝙢𝙨𝙖-𝙨𝙖𝙢𝙗𝙝𝙪𝙩𝙚𝙣𝙖
𝙨𝙧𝙞𝙫𝙞𝙨𝙖𝙮𝙖𝙙𝙝𝙞𝙥𝙖𝙩𝙞𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙝-𝙖𝙙𝙝𝙞𝙥𝙖𝙩𝙮𝙖𝙢-𝙖𝙩𝙖𝙣𝙫𝙖𝙩𝙖... "

(Aiyer, 1933a: 213-266; Nila kanta Sastri, 1949: 128-175; Karashima & Subbarayalu, 2009: 272-273) . 

       Nama 𝙎𝙍𝙄 𝘾𝙐𝘿𝘼𝙈𝘼𝙉𝙄𝙒𝘼𝙍𝙈𝘼𝘿𝙀𝙒𝘼 juga tercatat di dalam Berita Cina 🇨🇳 , yang mengirimkan duta-utusan ke Cina atas nama  𝙎𝙀-𝙇𝙄-𝘾𝙃𝙐-𝙇𝘼-𝙒𝙐-𝙉𝙄-𝙁𝙐-𝙈𝘼-𝙏𝙄𝘼𝙉-𝙃𝙒𝘼 pada tahun 988 M. 

       Seorang Pendeta Buddha yang berasal dari daerah Benggala-India, bernama 𝘼𝙏𝙄𝙎𝘼 yang mengembangkan ajaran 𝘽𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖 𝙑𝙖𝙟𝙧𝙖𝙮𝙖𝙣𝙖 di 𝙏𝙞𝙗𝙚𝙩, di dalam catatan kerjanya (𝘿𝙪𝙧𝙗𝙤𝙙𝙝𝙖𝙡𝙤𝙠𝙖) menerangkan. bahwa penguasa 𝙎𝙧𝙞𝙫𝙞𝙟𝙖𝙮𝙖𝙣𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 di 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙮𝙖𝙜𝙞𝙧𝙞 di 𝙎𝙪𝙫𝙖𝙧𝙣𝙖𝙙𝙫𝙞𝙥𝙖 adalah 𝙎𝙍𝙄 𝘾𝙐𝘿𝘼𝙈𝘼𝙉𝙄𝙑𝘼𝙍𝙈𝘼𝘿𝙀𝙑𝘼 setelah abad ke X M. ☝
(Coedes, 1966).

       Pada tahun 1003 M, 𝙎𝙧𝙞 𝘾𝙪𝙙𝙖𝙢𝙖𝙣𝙞𝙬𝙖𝙧𝙢𝙖𝙙𝙚𝙬𝙖 membangun sebuah kuil yang didedikasikan kepada Kaisar Cina 🇨🇳 yang diberi nama 𝘾𝙃𝙀𝙉𝙂-𝙏𝙄𝙀𝙉-𝙒𝘼𝙉-𝙎𝙃𝙊𝙐, yang mengirim duta-utusannya mengatas namakan 𝙎𝙨𝙚𝙪-𝙡𝙞-𝙩𝙘𝙝𝙤𝙪-𝙡𝙤-𝙬𝙤𝙪-𝙣𝙞-𝙛𝙤-𝙢𝙖-𝙩𝙞𝙖𝙤-𝙝𝙤𝙪𝙖. 
(Selamet Muljana, 2006).

            Beberapa orang Sejarawan menghubungkannya dg 𝘾𝙖𝙣𝙙𝙞 𝘽𝙪𝙣𝙜𝙨𝙪 di 𝙈𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙏𝙖𝙠𝙪𝙨. ☝
(Brill Archives). 

      Dimasa pemerintahan 𝙆𝙐𝙇𝙊𝙏𝙏𝙐𝙉𝙂𝙂𝘼 𝘾𝙃𝙊𝙇𝘼 𝙄 ,  seorang anak laki-laki CULAMANIVARMAN bernama 
𝙈𝘼𝙍𝘼𝙑𝙄𝙅𝘼𝙔𝙊𝙏𝙏𝙐𝙉𝙂𝙂𝘼𝙑𝘼𝙍𝙈𝘼𝙉 melanjutkan menyelesaikan pembangunan kuil yang sebelumnya didirikan oleh ayahnya dan diberi nama 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼-𝘾𝙐𝙇𝘼𝙈𝘼𝙉𝙄𝙑𝘼𝙍𝙈𝘼𝙑𝙄𝙃𝘼𝙍𝘼 (Prasasti Leiden 1006 M). 

        Pada tahun 1008 M di dalam catatan Berita Cina 🇨🇳 
datang utusan dari negeri San-fo-ts'i mengatas namakan Se-li-ma-la-pi, yang merujuk kepada SRI MARAVIJAYOTTUNGGAVARMAN; putera SRI CUDAMANIVARMAN.
       
       Identifikasi nama 𝙎𝙍𝙄𝙑𝙄𝙎𝘼𝙔𝘼 dengan 𝙎𝙍𝙄𝙑𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 adalah satu nama yang sama disebutkan di dalam dua prasasti dari NAGAPATTINAM bertarikh 1014/1015 dan 1015 M. 
       Sedangkan sebuah prasasti lain dari NAGAPATTINAM bertarikh 1019 M, menyebutkan tentang seorang duta/utusan dari Raja 𝙆𝙄𝙏𝘼𝙍𝘼, yang merupakan ejaan lain dari kata 
𝙆𝘼𝙏𝘼𝙃𝘼 dan 𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍𝘼𝙈. 
(Karashima & Subbarayalu, 2009: 275-276, 278).
        Nama negeri 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙃𝘼 merupakan penggunaan menurut versi dari Bahasa Tamil untuk 𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍𝘼𝙈 dalam versi Bahasa Sansekerta. 

       Pada masa pemerintahan Raja 𝙍𝘼𝙅𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝘾𝙃𝙊𝙇𝘼 𝙄 (1012-1042 M) hubungan persahabatan (diplomatik) dari Raja-Raja Wangsa Chola dengan Penguasa 𝙎𝘼𝙄𝙇𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼-𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 di 𝙆𝘼𝙏𝘼𝙃𝘼 (𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍𝘼𝙈) di era sebelumnya yg terjalin dengan harmonis, rupa-rupanya terputus 😭

      Raja 𝙍𝘼𝙅𝙀𝙉𝘿𝙍𝘼 𝘾𝙃𝙊𝙇𝘼 𝙄 menerbitkan 𝙋𝙍𝘼𝙎𝘼𝙎𝙏𝙄 𝙏𝘼𝙉𝙅𝙊𝙍𝙀 1030 𝙈 yang isinya memperingati kemenangan di beberapa wilayah di India  hingga ke daerah Sungai Gangga di India Utara,  hingga ke wilayah Asia Tenggara dan sebagian Nusantara, tak terkecuali salah satunya 𝙎𝙍𝙄𝙒𝙄𝙅𝘼𝙔𝘼 yang berpusat di 𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍𝘼𝙈 dengan rajanya berhasil dikalahkan dan ditangkap sebagai tawanan perang bernama 𝙎𝘼𝙉𝙂𝙂𝙍𝘼𝙈𝘼𝙑𝙄𝙅AY𝙊𝙏𝙏𝙐𝙉𝙂𝙂𝘼𝙒𝘼𝙍𝙈𝘼𝙉 (Baris ke -17, Prasasti Tanjore 1030 M; Coedes, 1918: 6).

        Konon, putera Rajendra CHOLA I bernama WIRAJENDRA I, pernah mengaku menaklukkan negeri KADARAM pada tahun 1068 M, namun kemudian menyerahkannya kembali kepada rajanya (Coedes, 1918: 38).😭

𝙄𝙆𝙃𝙏𝙄𝙎𝘼𝙍 (𝙠𝙚𝙨𝙞𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣). ☝🇮🇩

       Dari uraian analisa di atas; tentang isi (Deskripsi) dan  penafsiran sejarah (Kontekstual-Komparatif) terhadap PRASASTI LIGOR (7 Januari 776 M) dapatlah disimpulkan bahwa adanya penggunaan AKSARA JAWA KUNA TIPE TUA / AWAL (Periode: 750-925 Masehi) pada bagian Sisi B yang sebelumnya telah digunakan/berasal dari Golongan Ningrat (Para Penguasa/Raja dan Pejabat Tinggi Kerajaan) di Jawa pada sekitar Abad ke VIII M (750 - 760 M) mengindikasikan adanya pengaruh DOMINASI POLITIK / KEKUASAAN RAJA SAILENDRA terhadap PENGUASA SRIWIJAYA di Wilayah Semenanjung Malaya 🇲🇾- Thailand 🇹🇭

        Kedua Penguasa  SAILENDRA  dan SRIWIJAYA membentuk sebuah ALIANSI (PERSEKUTUAN) pemerintahan bersama yang dikendalikan oleh RAJA JAWA bernama SRI SANGGRAMADHANANJAYA dari WANGSA SAILENDRA pada Abad ke VIII M (742 - 792/802 M).

       Aliansi atau Persekutuan bersama tersebut tetap berlangsung hingga Abad ke IX M di masa kekuasaan BALAPUTRADEWA di SWARNADWIPA (843/850 - 904
M) sebagai penerus tahta kekuasaan kakeknya SRI SANGGRAMADHANANJAYA, yaitu seorang RAJA JAWA yang berasal dari Wangsa Sailendra (Śrī Mahārājā - Yavabhūmipālah - Śailendravańśatilako ).

       Pada tahun 960 M,  Raja SRI UDAYADITYAWARMAN seorang Penguasa SRIWIJAYA (San-fo-qi) diperkirakan sebagai penerus Balaputradewa, kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Cina 🇨🇳

       Pada tahun 988 M , tercatat di dalam Berita Cina 🇨🇳 nama seorang raja San-fo-qi (Sriwijaya) bernama SRI CUDAMANIWARMAN.
        Pada tahun 1006 M menjalin hubungan diplomatik dengan penguasa Cholamandala (Koromandel) di India Selatan dengan dianugerahi sebuah desa untuk pembangunan sebuah Vihara Buddha.

        Pada tahun 1008 M , Catatan Berita Cina 🇨🇳 menyatakan adanya kedatangan utusan dari negeri San-fo-qi (Sriwijaya) mengatasnamakan Raja SRI MARAWIJOTTUNGGAWARMAN,merupakan putera dari Sri CUDAMANIVARMAN.
         Sri Marawijayottunggawarman melanjutkan pembangunan vihara meneruskan cita-cita ayahnya yang kemudian diberi nama SAILENDRA-CULAMANIVARMAVIHARA.

       Dominasi SAILENDRA-SRIWIJAYA ini kemudian berakhir pada sekitar tahun 1030 M akibat serangan RAJENDRA COLA I, yang mengakhiri hubungan diplomatik dengan SRIWIJAYA dengan mengalahkan dan menawan rajanya bernama  SRI SANGGRAMAWIJAYOTTUNGGAWARMAN yang berpusat pemerintahan di KADARAM (KITARA = KATAHA = KEDAH).

       Pada tahun 1068 M, serangan atas SRIWIJAYA kembali dilakukan oleh putera Rajendra Cola I, yaitu WIRAJEN DRA I terhadap negeri KADARAM. 

       Demikianlah kisah jejak ALIANSI SAILENDRA - SRIWIJAYA yang berlangsung selama kurang lebih tiga abad (750 - 1050 M ) lamanya sebagai akibat adanya dominasi politik yang dipelopori oleh Raja Jawa; SRI SANGGRAMADHANANJAYA dari Wangsa Sailendra yang dimulai sejak pertengahan Abad ke VIII M hingga berakhir  di bawah penguasa SRI SANGGRAMAWIJAYOTTUNGGAWARMAN awal Abad ke XI M.☝🇮🇩

BALI, 17 April 2021
(Penulis: Toni Antoni Putra).

UNGKAPAN TERIMAKASIH  🙏🇮🇩

        Sebagai ungkapan rasa simpati kepada bbrp rekan sesama pemerhati Sejarah Nusantara, tak lupa saya sampaikan rasa Terima Kasih atas segala bantuan berupa sumbangan data dan pemikiran kepada sdr. :

* Goenawan A Sambodo. 
* Heri Poerwanto.
* Riff Bend Hall.
* Anjrah Widayaka.
* Panji Topan Bahagia.

🙏🙏🙏🇮🇩

PUSTAKA RUJUKAN:

* Bergaigne, A.: " Inscription 
          Sanskrites de Campa du
          Cambodge". Paris, 1893.

* Bosch, F.D.K.: " De Inscriptie 
          van Ligor. " TBG 81, 1941.

* Casparis, J.G.de.: "Indonesian 
          Palaeography : A History
          of Writing  in Indonesia
          from The Beginnings to
          C.A.D. 1500." Leiden/Koln
          Brill, 1975.

* Coedes, G.: " Le Royaume de
          Çrivijaya." Bulletin de l'
           Ecole Française de '
           Extreme Orient." BEFEO,
           1918.

* Coedes, G.: " Linscription de 
          Stele de Ligor. Etat pre-
          sent de son Interpreta-
          tion. " Orient Extremes,
          1959.

* Coedes, G. : " The Indianized 
          States  of Southeast Asia
          ."  Ed. by W.F. Vella, trans-
           lated by S. Brown Cor-
           ving. University Press of
           Hawai,  Honolulu, 1968.

* Coedes , G & Damais, L. C.:
          " Sriwijaya: " History,
          Relegion & Language of
          an Early Malay Polity ."
          Collected Papers by 
          P.Y. Manguin, Kuala Lum- 
          pur. Malaysia Branch of
         The Royal Asiatic Society,
         1992.

* Goenawan A. Sambodo. :
          " Dari Prasasti ke Prasas-
          ti." Komunitas Taksaka,
          2020.

* Hirananda Shastri.: " The Na-
        landa Copper-plate of Deva
        -paladeva." Epigraphia XVII,
        1924.

* Jordan R.E. & Colles B.E. :
         " The MaharajaS of the
         Isles; The Sailendras and
         The Problem of Srivijaya."
         University of Leiden, 
         Leiden, 2009.

* Majumdar, R.C. : "Ancient Indi-
          an Colonies in The For
          East." Vol-I. Champa, book 
          III : The Inscriptions of 
          Champa, Punjab,  Lahore,
          1927.

* Majumdar, R.C. : " Notes on 
           Sailendra Kings Mention-
            ed in Leiden Pletes. "
            E.L. XXII, p.204, 2004.

* Majumdar, R.C.: " Les Rois 
          Sailendra  de Suvarnadvi-
          pa." BEFEO 33, 1933.

* Monier - Williams M.: "De In-
          skripsi van Ligor." TBG 81,
           1899.

* Nilakanta Sastri, K.A. : " Histo-
        ry of Sri Vijaya (Sir William 
        Meyer Lectures, 1946-
        1947). University of Ma-
        dras, 1949.

Friday, September 11, 2026

Prasasti Karang tmTengah ( Kayumwungan))

Transscriptie
A. [1] — — — — ‿ — — < amitava > lamahāvaj raparyy aṅkavaddhaḥ rakṣatv= āmūlaṣimho bhava j abhavacarāty antasaṃkru- [2] ‿ — ^ ḷ —- — — — ‿ -— — ‿ ‿ matarahitottuṅgaçailasthaçūro yat=sajjīvāparasmāravalam=akhila — [3] — ‿ — — ‿ — ^ // 1 // ————‿——‿ vara vaç a vatāsādi tādharmma vṛnd ān lokānāṃ laukya vuddhair = agaditam = atu [4] — — —‿ — ^ / — -— — — ‿ — — cchidam=akhilabhavavyādhibhaiṣajyam=agraṃ saddharmaṃ yukticittaḥ praṇama < ti > [5] ‿ ‿ — — — — ‿ -— —- // 2 //— — t=kāruṇyam=agrañ=jagati gatiçatānantaduḥkhābhibhūte bhaktisvīyā ^ [6]—— ‿‿‿‿‿‿——‿——^ mānām f prītyā rājā tale dandadharatulamahājñānapuṇyaprasūti[ 7] ‿‿‿‿^‿——-^ tām=vandyavandyaḥ // 3 // Çrīmat=samastasugatais=sasutaiḥ parāntyaiḥ nīrukta- [8] — ‿‿‿ — ‿‿ — ‿ — ^/ — — ‿ — …-^ taruṇām=atha duḥkhiteṣu sattveṣu vuddhacariteṣu garīyasīñ = ca //4 // Çraddhāñ=ca [9] —-‿‿‿— ‿‿ — ‿ — -— — ‿ -lāgraguṇavadgaṇam= atyavāçi / lebhe vigūḍhamanuj endragaṇān = mahiṣyaṃ çai- [10] < lendravaṃçatilaka > ‿‿ — ‿ — ^ // 5 // Vistīrṇṇasaṅga ‿ ‿ — pyananāmvupūrṇṇa- prauḍhadviṣadvikasitāmvujalocanāni / [11] tanmaṇḍalā ‿‿‿—‿‿— ‿-^— nītyasmṛtāni sahasaiva samākucanti // 6 // Caṇḍapratāpaparitāpitabhuribhū- [12] paḥ santāpapāvanama — ‿ ‿ — ‿ — / — — guṇo ‘pi hirapītakaro ‘vadātaḥ sācātirānubhavatoṣavivi- [13] ktacittaḥ // 7 // Çrīmān=asau samaratuṅga iti ksitī

artinya dalam Bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan bantuan google translation:
*



……kelompok Dharma yang diperoleh oleh kekuatan luar biasa 2) …. …….. untuk Ajaran Baik ini 3), tidak disusun oleh para Buddha duniawi dunia, tak tertandingi, …………… (menghancurkan noda?), obat untuk semua penyakit dari bentuk keberadaan, pemikiran yang baik ….. ………….………… welas asih, puncak dunia, diliputi oleh penderitaan tak berujung dari ratusan inkarnasi pengabdian …… ……….. dengan kegembiraan ………… pangeran di bumi ………… (dalam) meningkatkan pengetahuan dan perbuatan baik ‘-), untuk membandingkan mereka telah diyakini bersamanya seribu kali.
4.Oleh semua Sugata yang diagungkan, yang bersama-sama dengan putra-putranya membentuk rangkaian yang tak terputus ………………………… menjelaskan …. . ……………. muda, sehubungan dengan yang menderita tetapi lebih hormat dalam perbuatan baik para Buddha (?).

Dia menunjukkan pengabdian …………… melampaui kerumunan orang yang bajik, dia memperoleh kebesarannya dari kumpulan penguasa tersembunyi atas manusia, sebuah permata dalam keluarga Çailendra …. ……………..

Mata lotus dari musuh yang sombong, dipenuhi dengan air mata karena pandangannya yang lebar, tertutup pada ……………… tiba-tiba, tanpa mempedulikan martabat mereka.

Karena keagungan yang membara banyak seorang pangeran hangus, dia menderita dengan api pertobatan…. dia bersih dengan tangan emas, dan jiwanya bebas dari kepuasan akan kekuasaan.

Dia, penguasa bumi yang tinggi bernama Samara tuṅga, …………….. lipat, lebih rendah, tetapi lebih kuat 1). Putrinya yang sangat tersayang membangun Jinālaya yang indah di desa ini 2) ……………………

Dia, yang namanya ornamen kualitas dan kebajikan para pangeran teras, tidak tanpa tugas feminin, penuh kasih sayang, bersinar ……………. …….. membangkitkan rasa hormat ke provinsi-provinsi terpencil.

Dia mendapatkan pesonanya dari bulan, langkahnya dari haṃsa, suaranya dari kalaviṅka 4), dia, disebut Prāmodavardhanī yang luhur -).
7
Pada Çaka tahun 9), (ditunjukkan oleh) rasa (^ es), (empat) samudra dan ^ (tujuh) gunung, di bulan Çuci (?) 7), pada hari lunar Kāṣṭhā 8 ) (bulan), yang berada di paruh gelap, pada hari kerja, secara tradisional Guru ^), juga disebut Tunglai, juga disebut Umanis, ia menunjuk (n) 10) Penguasa Tertinggi Awan, ditemani oleh Yang Mulia ( n) di bait suci yang sesuai.

Dan (gambar) itu bersinar sebagai bagian dari piringan Bulan, tiba-tiba jatuh ke bumi karena takut akan Rāhu. (Kemudian) Pembawa Tanah naik ke alas yang layak untuknya, memikat, dibuat dengan indah oleh orang tua, dengan yang muda sebagai pembantu.

Semoga Dia melalui jasa saleh yang dicapai melalui pembangunan kuil Jina, yang disebut “Hutan Bambu yang Mulia,” menjadi bagian dari sepuluh sucataship.

Dengan cara yang sama, semoga saya pada gilirannya mencapai keadaan yang sangat sulit untuk dicapai 1), yang tertinggi, tidak material, yang melalui saya kepada putra-putranya ……….. ^.

Selama api bawah tanah (?) Dengan kekuatan nafas panasnya ……… berjuang untuk Kebangunan; selama bumi dekat (?) dan bentuk Meru dipenuhi dengan hosti para Dewa, selama di langit Matahari menyinari sinarnya hingga ribuan – selama fondasi ini 3), penuh dengan Kebajikan Sugata bertahan.

Sumber.

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/prasasti-karangtengah-prasati-kayumwungan/



Thursday, September 10, 2026

Terjemahan Prasasti Ligor

Prasasti Ligor A:

|| व़ीसारीण्या किर्त्त्या नयव़ीनयषौर्य्यष्रुतषमक्शम

धॆर्य्यत्यागद्युतीमतीदयाद्यक्शयभुव़ा परं यशा

क्रान्ता भुव़नकुभुजां किर्त्तीव़ीसरा मयूखास् ताराणां षरदी

तुहीनांषोर् इव़ रुचा || गुणानाम् आधारस् तुहीनगीरी

कूथाधीकरुचा गुणाड्यानां पुंसाम् अपी जगती यस् तुंग

यषसाम् मणिनां भूरीनाम् दुरीतभीदुदन्व़ान् इव़ महा

न् मणीज्योतीर्ल्ऌखाव़लयीषीरसाञ् चापी फणीनाम् ||

धनव़ीकलताबःनीज्व़ालाव़लीक्शपीताषया यम् अ

भीपतीता ये ते स्व़ाम्यं परं समुपागताः हृदम् इ

व़ गजा नीत्या को ...पन्नषुभाम्भसं सव़ीतरी त

पत्य् अगॄ सेव़्युंसरोजरजोरुणम् || गुणभॄतम् उप

गम्य यं गुणाड्या... ... ... ...रा मनुना समं समन्तात्

मधुसमयम् इव़ामृकेसराद्याष् ष्रीयम् अधीकान् दधते म

हिरुहेन्द्राः || जयती अयं ष्रिव़ीजयेन्दृराजा

समन्तराजार्च्चीतीग्मासनष्रिः पृषस्तधर्म्मस्थीरतोन्मुखेन

व़ीनीर्म्मीतो व़ीष्व़सॄजेव़ यत्नात् || ष्रिव़ीजयेष्व़रभूपती

र् एमगुणो घनक्शीतीतलसर्व़्व़समन्[तनॄपोत् तम एकः

स्थापीत ऐश्थीकगेहव़रतृयम् एतत् कजकरमारनी

सूदन[बज्रीनीव़ासं || स...तम् एतत् त्रीसमयचॆत्यनीकेतं

न् दषदीगव़स्थीतसर्व़्व़जी[नोत्तमदत्तम् सर्व़्व़जगत्मलभू

धरकुली अव़रन् त्रीभव़व़ीभुतीव़ीषेशदम् [अमरपदम् ||

पुनर् अपी जयन्तनामा राजस्थव़ीरो नॄपेन सनीयुक्तः स्तू

पतृयम् असी कुर्व़्व़् इत्य् अतस् स तद् इदन् तथा कॄतव़ान् || स्व़रीते

स्मींस् तच्छीश्यो 'धीमुक्तीर् अभूच् च नामतस् स्थव़ीरः इश्थीकचॆ

त्यद्व़ीतयं चॆत्यत्रीतयान्तीके कॄतव़ान् || व़ॄड्या

प्ते षाकराजे मुनीनव़रसकॆर् म्माद्नव़ॆकादषाहे षुक्ऌ को

लिरलग्ने भॄगुसुतसहीते चार्य्यमञ्ज्योतीरार्य्ये देव़े

न्दृभेन च ष्रिव़ीजयनॄपतीनाञक्शीतिषोत्तमेन तृॆ

लोक्यॆकागृ्यचीन्तामणीव़पुश इ[ह स्था]पीतास् स्[त्]उउप ... ...

Prasasti Ligor  B

स्व़स्ती यो सौ राजाधीराजस् सकलरीपुगणध्व़ान्तसूर्य्योप

मॆकस् स्व़ौजोभीः कान्तलक्श्म्या षरदमलषषि मन्मथाभो [व़पु

श्मन् व़ीश्ण्व़ाख्यो षेससर्व़्व़ारी...मदव़ी...नष् च द्व़ीतयस् स्व़षक्त्या सौ

यं षॆऌन्दृव़ंषपृभुनीगदतः ष्रि महाराजनामा तस्क्य च सकलरा 

Terjemahan Prasasti Ligor A

Bahagia! Tahun Saka 697, hari ke-11, pada paruh terang bulan ketika matahari terbit, hadir Wenu. Ia (yang)  adalah Maharaja dari segala raja, melalui kekuasaannya [ia] bagaikan Dewa Surya sendiri yang menghalau kegelapan [dalam bentuk] seluruh musuhnya. Ia (yang) memiliki wajah yang sempurna [bagaikan] bulan purnama pada musim gugur yang tanpa cacat dan [indah] seperti Dewa Kama sendiri.

 

Ia [yang] bagaikan Dewa Wisnu, yang sepenuhnya [menghancurkan] kesombongan semua musuhnya. Dan [yang], dengan [menunjukkan] segala kebesarannya, segera menjadi terkenal dan dikenal sebagai Sri Maharaja, karena ia berasal dari [keturunan] keluarga Sailendra. Dan mengenai dirinya ... dari seluruh raja.

 

Ia (yang) bagaikan bulan purnama pada musim gugur, yang cahayanya meredupkan seluruh sinar bintang, [demikian pula] kewibawaannya mengatasi seluruh raja bawahannya. Ia  (yang) , cahayanya menerangi puncak-puncak pegunungan Himalaya, [sebagaimana] segala kejahatan [yang] melebur ke dalam lautan luas.

Ia (yang) bagaikan pohon rindang tempat gajah-gajah berlindung dari panas matahari [yang] membakar danau. Demikian pula orang-orang miskin (yang) berlindung di bawah naungannya. Ia (yang)  bagaikan Manu, menyebarkan segala kebahagiaan seperti musim semi yang memberikan keindahan kepada seluruh tumbuhan.

Ia [telah] diciptakan oleh Dewa Brahma untuk menegakkan Dharma. [Dengan demikian] kewibawaannya melampaui seluruh raja [di sekitarnya]. Ia adalah Srivijayavendrārāja, penghimpun segala kebajikan di dunia ini, yang mendirikan sebuah Trisamaya Chaiya yang suci, yang dipersembahkan kepada Padmapani, Shakyamuni, dan Vajrapani.

Trisamaya Chaiya yang suci ini dipersembahkan oleh Srivijayavarabhupati (Yuvaraja) kepada Jina yang berbudi luhur, yang menempati tempat kesepuluh di surga. Tempat itu berada di atas Amrita, yang memberikan kebahagiaan kepada tiga dunia.

Sebuah titah kerajaan diberikan kepada Pandhita Jayanta untuk melaksanakan suatu upacara guna menyempurnakan stuparayamsi (stupatrayamsi) sesuai dengan perintahnya.

Setelah kematian Sang Maharaja, putranya diangkat sebagai penggantinya. Di sana dibangun sebuah Trisamaya Chaiya yang suci. Srivijayanarapati [Srivijayanrepati], [yang] bagaikan Indra, membangun bangunan Trisamaya Chaiya yang begitu indah, seolah-olah dibuat dari Cintamani pilihan di Tiga Alam.


Terjemahan Prasasti Ligor B

Raja dari segala raja (rājādhirāja) (yang), yang karena kegemilangan atau kejayaannya adalah tunggal bagaikan matahari yang menghalau kegelapan yang diwujudkan oleh gerombolan seluruh musuhnya; yang karena keindahannya yang memikat [atau: karena keindahan bulan (kānta)] adalah seperti bulan purnama yang tanpa cacat; dan yang karena pesonanya memiliki penampilan seperti Manmatha, [raja] tersebut dinamai Viṣṇu, yang berdasarkan keperkasaan dan kebajikannya bagaikan [Dewa Vishnu], penghancur kesombongan seluruh musuhnya, dan yang disebut Sri Maharaja untuk menunjukkan bahwa asal-usulnya berasal dari keluarga Çailendra; — mengenai hal itu [tidak selesai].

 

 

Sumber Google Book:



https://books.google.co.id/books?id=27N4EQAAQBAJ&newbks=1&newbks_redir=0&printsec=frontcover&pg=PA54&dq=Ligor+inscription&hl=en&source=gb_mobile_entity&ovdme=1&redir_esc=y#v=onepage&q=Ligor%20inscription&f=false



Tuesday, September 8, 2026

Syair Orang Lamalera di Timor tentang Majapahit

 

Orang Lamalera mengenang cerita itu dalam fragmen Lia Asa Usu yang berbunyi:

“Feffa belaka Bapa Raja Hayani Wuruk, pasa-pasa pekka lefuk lau Luwuk, fengngi baata Gajah Mada lali Jawa, hida-hida hiangka tana lau Beru, geri tena, bua bua laja, kai lullu laja teti Sera Gafi lefa Halmahera, kai kabongka teti Gora, gafek lau fatta papa Lamabata, sapek teti Tobi landekke, siga teti Fato Bela Bakku loddo dai kabe hone hollo.”

(Demi kehendak Bapak Raja Hayani Wuruk, terpaksa kutinggalkan desaku di Luwuk sana. Atas perintahnya Patih Gajah Mada dari Jawa, kulepaskan humaku di Tana Beru. Kutumpangi perahu lalu berlayar, lalu menurunkan layar di Pulau Seram. Pergi mengarungi laut Halmahera, akhirnya melabuhkan kapal di Pulau Gorom. Kulintasi pantai selatan Pulau Lembata, sambil menyinggahi Tobi Landekke nun jauh di timur. Berlabuh sebentar di Fato Bela Bakku, turun ke darat untuk membangun gubuk).

Terjemahan Prasasti Leiden

**सोऽयमखिलकलाकलापपारावरपारदृश्वान् शेषनृपचक्रचारुच्छामीकरकिरीटकोटिघटितानेकमाणिक्यमरीचिपुञ्जपूजीकृतपादपीठो राजराजो राजकेसरिवर्म्मा स्वसाम्र...